Sabtu, 31 Oktober 2009

Usai Jeda Itu

Memburu waktu yang
menunggu,
dari balik lapakmu
yang bisu
tertawakanku.

usai jeda itu
saat kau berlalu.

Siksaku Tahtamu

kutatap lekat mahkota
itu, kupandang dalam
tahta di depanku.
kilau sempurana,
atau fatamorgana?

kupikirkan hingga
mendasar.

bukan,
bukan kilau
buram yang membayang
di jejak lampau.

adamu ataukah
adaku?

lalu mengapa tetes itu
mengalir di nadiku
dan kau ingin letakkan
mudramu di kepalaku?

karunia atau
kutukkah itu?

Akhir Kisah

Desaumu mengikis serpihku
dalam diam membatu.
kilasmu membelah
padas dalam ruam-ruam
biru.

pergimu atau pergiku sore itu?
yang merobek
jelujur hasrat.

benci atau rindu?

Senin, 07 September 2009

Jika Tiba Saat itu

jika saat itu tiba
masihkah aku berdiri
sombong menantang langit
atau rebah berkalang tanah
berserakan
dalam puing dan debu
sisa murka bunda pertiwi

atau...
mungkin tenggelam dalam
arus dingin
samudra selatan pemangsa
nyawa yang
mengapungkan tubuh
tubuh renta tak berdaya
menanti ambang ajal
tiba menjemput derita.

jika saat itu tiba
mampukah aku bertahan
mampukah aku menemukan
dan membawamu pulang
hingga ajal menjemputku
masuk pintu kematian.

jika sempat
aku ingin berkata
titip anak
anak kita...

Selasa, 11 Agustus 2009

Lewat Jalan Setapak..

Ketika semua tampak buram
saat senja merayap pelan
gelapkan setiap
kolong langit yg
mulai temaram.

Langkah gontai
penyair malam
isyarat kelelahan,
jalan yang dulu lebar
kini menyempit
pelan
dipagari ilalang
yang rimbun
membuat gatal.

Jalan setapak itu
kian buram oleh malam
bulan pun hanya
memberi tampakan
keperakan.

Semua sunyi
semua diam
tenang tak berucap
seakan hari hilang
ditelan hitam.

Lalu dimana
kunang-kunang yang
semarakkan malam
punah atau
malas meninggalkan sarang?

Ah..
biarlah
sunyi bukan berarti mati
gelap bukan berarti
meratap,
sebab...
sunyi menyandarkan
diri pada
bahu malam sekedar
istirahat sejenak dari
kekisruhan.

Senin, 10 Agustus 2009

Menanti Selumbar Kematian

Datang dalam senyap
menyusup dalam angin malam
yang tenang
tanpa sapaan tanpa
teguran

Hanya lewat tanpa bekas
tak mengejak
tak memberi jeda
sehela nafas
tak terlihat bentang
hanya sejengkal
sudah di hadapan

Menikam dalam
membenam kematian
tanpa memandang dalam
ketiadaan

Dalam keyakina
melalui kepastian dia
datang menjemput tanpa
kesiapan.

Sabtu, 11 Juli 2009

Aku Pergi...

Tak terasa sudah tiba saatnya beranjak kaki
tinggalkan kota bising ini.
Meski seraut wajah masih
membayangi jejak
langkah menysuri jalan
terjal menuju
kota sunyi.

namun tetap pasti
menanti hari tuk
bertemu kembali
memetik sbulir senyum
yang menghias pelangi
pagi hari.

Ego Vere Amo Te

Sebuah ungkapan yang sangat familier di telinga kita "Kasih". Tapi taukah kita dengan arti dari kasih itu sendiri ? atau kita hanya tau menyebutnya saja tanpa mengenal arti dari kasih itu sendiri?
Lalu samakah "Kasih" dengan "Cinta" ?
Ada baiknya kita luangkan waktu sejenak untuk mencoba memahami arti kasih dan cinta. Kasih merupakan sebentuk ungkapan rasa yang diberikan kepada orang lain, bisa berupa kata-kata, perbuatan ataupun melalui perlambang. Maka mari kita coba untuk menemukan arti kasih itu sendiri. "Kasih" merupakan wujud dari sebuah kebebasan. Mungkin bisa dicontohkan, jika kita memiliki pacar, yang sering juga disebut kekasih, apakah kita ingin membuat kekasih kita tidak bahagia ? atau jika kita sudah memiliki anak, apakah kita mengungkapkan kasih kita dengan memukul dan menamparnya setiap hari..? atau kita memberikan apa yang mereka butuhkan ? saat kita bayi, ibu selalu memberikan kasih sayangnya yang begitu besar. Ketika kita menangis saat masih bayi atau ketika kecil, ibu langsung datang dan mengahampiri kita meski beliau sedang memasak atau sedang mengerjakan sesuatu yang penting. Ibu kita tidak pernah melarang atau memukul kita saat kita ngompol atau, maaf, "pup" di popok bayi kita. Bahkan dengan penuh kasih, beliau mau membersihkan kotoran dan ompol kita dan tak pernah sedikitpun ibu kita protes dengan hal tersebut. sebuah contoh nyata ungkapan kasih sejati yang pernah kita alami dan patut kita syukuri. Kasih yang membebaskan kita untuk berbuat semaunya. Jika kita sedikit renungkan, sejak awal hidup kita sudah memperoleh kasih yang begitu besar. Tuhan telah memberi kebebasan untuk memilih jalan hidup kita sendiri. Sungguh Sebuah kasih sejati yang dalam bagi kita dari Tuhan. Contoh lain, jika bisa dijadikan sampel, yang biasa kita jumpai dalam keseharian kita, yaitu pohon rindang yang memberi keteduhan bagi kita. Pohon tidak pernah memilih orang baik atau orang jahat untuk berteduk di bawahnya ketika terik matahari membakar tubuh kita. Bahkan orang yang memotong ranting atau cabangnya pun masih diberikannya keteduhan dari panasnya sinar matahari. Atau bunga mawar yang memberi keindahan warna dan wanginya kepada setiap orang, pernahkan dia menjadi busuk ketika orang jahat menghampirinya?

Dari contoh di atas, kita jadi sedikit mengerti bahwa kasih adalah sebentuk kebebasan yang kita berikan sebagai ungkapan cinta kepada orang lain, alam, dan dunia ini. Maka marilah kita bersama memberikan kasih yang tulus dan bebas tanpa memandang kejahatan dan keburukan orang lain. Sebab dengan demikian kita memiliki kasih nyata yang bebas dari belenggu pikiran kita dimana akan membatasi diri kita untuk memberikan dan mengungkapkan kasih yang berdiam di hati kita manusia.

Sehingga dapat kita artikan Kasih sebagai kebebasan yang membebaskan diri kita dari belenggu-belenggu pikiran, budaya dan hal-hal lain yang membuat kasih dalam hati terpenjara.

Salvo Meliori Iudisio.... semoga ada pendapat yang lebih baik....

Jika Tahta itu tiba

secarik senyum kau lempar kepadaku,
hendak berkata apa aku
bingung aku menatapmu
dibalik kelambu merah itu

masihkah slumbar senyum
untukku ketika
aku beranjak meninggalkanmu?
atau aku harus merajut
sebulir senyum untuk
hiasi mahkota
emas di wajahmu ?

jika keretaku tiba tuk
membawa sejumput harap
selapis mimpi
memboyong putri
ke puri
istana raja
bersanding di tahta
mahkota brawijaya
berjuluk maharani Wilwatikta.

masihkan sebulir senyum
terhias di wajahmu ?

Sabtu, 27 Juni 2009

In Verbo Tuo

"Lidah seperti pedang bermata dua". Sering kali kita terlambat menyadari kesalahan kita sendiri bahkan sering juga tidak menyadarinya, tetapi kita lebih cepat melihat kesalahan orang lain. Banyak dari kita sadar atau tidak lebih senang membicarakan kesalahan ataupun keburukan teman atau kolega kita daripada kesalahan sendiri. Celakanya, saat membicarakan kejelekan orang lain, kita tidak melihat kejelekan diri sendiri. Bahkan lebih gilanya lagi kejelekan orang lain sering kita bumbui dengan kata2 kita sendiri sehingga tampak lebih buruk dari yg sebenarnya. Lalu sadarkah kita saat menganggap diri kita lebih baik dari orang lain yang kita ungkap keburukannya, menunjukkan hal terburuk dari diri sendiri ? Dan maukah kita menerima saat kesalahan kita dibeberkan atau dibicarakan kepada orang lain ? jika tidak, lalu mengapa kita membicarakan keburukan orang lain..?

Dalam sabdaNya, Jesus pernah mengungkapkan sebuah perumpamaan yaitu, "Lidah bagaikan pedang bermata dua". Patut di renungkan. Di sini Jesus ingin mengingatkan kita, untuk menjaga setiap perkataan kita. Dalam artian, sebelum kita mengatakan sesuatu tentang orang lain, terlebih dulu kita periksa diri kita, apakah kita sudah lebih baik dari orang tersebut atau sebaliknya, lebih buruk darinya. Jika masing2 dari kita mau menyadarinya, maka tak akan ada orang yang akan membeberkan keburukan orang lain, sebab kita tak lagi menganggap mereka lebih buruk dari kita sendiri.
Jika boleh aku ungkapkan mengenai sabda di atas, bisa berati seperti ini; Lidah bagaikan pedang bermata dua, yang membelah orang yang kita ajak bicara sekaligus membelah diri kita sendiri. Yang berarti, kita menyadarkan orang lain sekaligus diri kita sendiri. Maka akan lebih baik jika kita senantiasa memeriksa diri kita sendiri daripada kita memeriksa kesalahan orang lain. Sehingga Tuhan tidak menegur kita dengan berkata " Kamu melihat selumbar di mata saudaramu, tetapi balok di matamu tidak kamu lihat." Keluarkanlah dulu balok di matamu, baru kamu bisa mengeluarkan selumbar di mata saudaramu.


"Salvo meliori Iuditio." Semoga ada pendapat yg lebih baik.

Senin, 22 Juni 2009

Meniti Setapak Jalan

di atas sehampar pasir
di muka bukit,
tersiar kabar tentang
oase-oase hidup
yang menyegarkan dahaga
jiwa yang kering.

jika melihat dari teriknya mentari
tampaklah sauna alami
yang memanggang hidup
untuk dihidangkan pada
ketiadaan.

terik itu seakan tak
berkesudahan
membakar habis kelesuan
di bawah beban dan
kuk berat yang terpikul
menapaki pasir gurun
yang tanpa batas

dan tanpa ampun
merajam jiwa
hingga lumat.

Sabtu, 23 Mei 2009

Seikat Harap

Ku persembahkan dewa kematian di atas talam keemasan
Sekedar membuatmu tenang, hingga fajar menjelang
Biar dia terkapar, sebab kematian lapar melahap
Kehidupan.

Di balik peraduan kau tetap diam
Acuhkan semua teriak hausku seperti tak pernah kau dengar,
Atau memang kau tuli?
Tuli hatimu hingga tak mendengar lagi
Bisik lembut yang berkata : “aku terima”

Apalagi yang harus ku bawa, supaya kau percaya ?

Apa?

Penantian Senja

Bulan datang bersama angin
Menjamu malam dengan cahaya keperakan,
Suguhkan nyanyian serangga yang
Mencari pasangan, senandungkan syair penantian
menanyakan pada hantu-hantu lapar : kapan dia datang?

Tanganmu menggigil, berharap kehangatan
Menggenggam tubuhmu yang kedinginan,
Bukankah sudah aku tawarkan?
Lalu bagaimana aku meyakinkan?

Bagaimana?

Selasa, 19 Mei 2009

Temaram Senja

senja menyelinap
di balik butir
embun pagi
menyucup segar angin sore,
sehingga dia basah kuyu, tenggelam dalam awan jingga.

tubuhmu menggigil, seakan dingin memeluk eratmu.

Terjerat Asmara

terlampir seutas desah
di pundak-pundak kata
mengiring gemericik air
kolam yang mendesah
keenakan

ku tengok
balai-balai redup
seiring bunyi derit
tilam bambu usang

merengek
menahan beban yang bergerak-gerak
penuh irama
malam kesepian

lunglai
kata menepis rasa
membalut aroma
puspa nestapa
membelai lembut
bunga cinta
mereguk manis anggur
asmara.

Jumat, 15 Mei 2009

Merajut Sunyi

kau tetap diam
meski kata melompat
di atas
lembar elektronik yang
berderak-derak mengirim pesan

bisakah kau berucap
sekedar membasahi dermaga
kering berdebu...

atau kau akan tetap membisu
dalam beku hawa kutub utara

dan
tetap kunanti jawabmu...

Abu Solusi

abu solusi
menebar terang kemunafikan
merebahkan keresahan
di atas tilam-tilam
peraduan

bara asmara
berlompatan di atas
lembayung-lembayung cinta

menidurkan kata
yang sejak semula diam
memendam angkara
bungkam sengsara

Terasing

serigala terkapar
pada lembar-lembar
keterasingan yang lembab
oleh embun malam

atau dirimu yang resah ?

sesak menyesak

kemana kata pergi
menjunjung tilam
pesakitan

limpahkan sesal kerinduan
dalam tuangan anggur
kemabukan

kata pergi mencari
kekasih
ditengah savana
pasetran perang

tuangkan nanah
kebakaan

klausa sepi

sekumpulan tinta
berbaring di atas meja

diam membisu
tak ada kata-kata yang tercetak

yang biasanya
melompat-lompat di
atas tilam putih
bergaris rapi

masih tertidur
lelap

Sabtu, 02 Mei 2009

Hanami O Shimashou

Terkenang balaian Sakura merah
saat Hanami tiba
menyibak kabut
kesepian.

Meniti Alam Padewan...

Anyir aroma kematian
yang bergelimpang
dibalik kafan-kafan
hitam
yang dikerubuti binatang
binatang jalang

menyantap hidangan
akbar di tengah-tengah
pasetran agung
sisa perang keangkaraan.

Jumat, 01 Mei 2009

Hampir Sampai Sudah

Hampir sampai sudah
ketika koma
tercoret dibayang
huruf-huruf hitam berjajar
ketika tinta
pena menari gemulai
di atas secarik kertas

Jeda
memang agak lama
sebelum kata-kata terakhir
akan tertuang
menjadi akhir bab cerita lalu
yang ditutup
dengan titik

Dan semua berakhir di
situ
sebelum bab baru
mulai tergores
di lembar berikutnya
mengukir cerita
dalam kisah selanjutnya
.

Sampai di mana ?

Ribuan kilo aku lewati
menyusuri parit-parit
dalam
hingga tenggelam dalam
kubangan hitam.

Letih berjalan
ditemani kerikil-kerikil tajam
yang menghibur dalam
kesakitan.

Hitam
kelam
lumpur hidup yang
terhampar
mencari sejengkal
tanah
bakal persemayaman kekal.

Peripih perih...

Lama aku menanti
mendengar riuh kicaumu
namun,
tiap kali ku sapa dirimu
hanya kibasan sayapmu
yang menyibakkan wajahku

Bencikah kau
pipit kecilku
hingga tak lagi
bersenandung bagiku
atau memang kau
sudah lupa
akan kurcaci ini...

baiklah
esok aku kan menjeratmu
dengan kidung-kidung
cinta yang membawamu
dalam buai
puisi jiwa.

tempat kau menari dalam
sangkar hati
pujangga sepi.

Rabu, 01 April 2009

Bunga Wilwatikta

Getir rasanya...
ketika dia menusuk hati
dengan kata yang tajam
menghujam begitu dalam
Peripih-peripihnya
masih tertinggal
membengkak luka membedah nurani

Maukah dia,
bagian dari darah dan
daging yang sama denganku
mencabutnya
hingga lukaku tak meradang

Kalo bukan kau
mungkin sudah ku hujam
dengan parang

Kuusir dari istana
kebesaran

Tempat wijaya muda
dibesarkan
dan meneguk susu
kelembutan Bunda Ratu

Kamis, 26 Maret 2009

Mari berdiam

“ Aku ingin mati saja !” Teriak gadis itu. “Mengapa?” Tanya lelaki yang berdiri agak jauh di sampingnya. “ Karna tak ada artinya lagi aku hidup, Semuanya sia-sia.” Jawab gadis yang sudah berdiri tepat di bibir kematian. “ Jika demikian, lompatlah sekarang.” Kata lelaki berjubah hitam itu. “ sebab, kau memang tidak berarti bagi kehidupan ini. Akankah lebih baik jika kau tidak pernah ada, daripada kau hidup hanya untuk mengakhirinya.” Lanjut nya.
Hidup kadang terasa berat… tapi sadarkah kita jika berkata demikian, kita telah lari dari kenyataan, bahwa, keadaan tersebut kita sendirilah yang membuatnya? Atau malahan dengan semena2 kita menyalahkan hidup itu sendiri yang telah member kita segala sesuatu selama perjalanan hidup kita, sebagai sumber dari permasalahan yang sedang menimpa kita, hingga akhirnya kita memutuskan untuk mengakhirinya? Sebuah pemikiran yang kurang bijak. Sebab kita menyerah begitu saja oleh permainan ego kita sendiri.
Satu hal yang patut kita sadari bahwa, kematian bukanlah sebuah jalan untuk menyelesaikan permasalahan kita. Hidup akan begitu berarti dengan segala hal yang kita alami, baik manis ataupun pahit. Justru dari pahitnya hidup, kita memperoleh arti terpenting dari hidup itu sendiri yang mengantarkan kita pada hidup yang lebih baik jika kita mau memahami dan memetik sesuatu dari pengalaman pahit itu. Dan akan lebih berarti lagi jika kita berani untuk memilih melanjutkan hidup dengan menghadapi keadaan terpahit dalam hidup kita dari pada memilih bunuh diri dan lari dari masalah yang ada, sebab putus asa tak kan menyelesaikan semuanya, hanya akan menambah beban dan masalah bagi orang lain. Pernahkah kita berpikir saat memutuskan untuk bunuh diri, bagaimana perasaan orang tua, saudara, bahkan anak2 kita ketika menemukan kita mengakhiri hidup dengan seutas tali atau terbang bebas lepas dari gedung bertingkat bak seorang superman ? yang pasti hanya akan meninggalkan kepedihan yang mendalam..dan teramat dalam… dan jika demikian,tegakah kita melihat mereka tersiksa oleh kepedihan yang begitu dalam hingga mungkin ,bahkan, dapat menjadikan salah satu dari mereka gila atau merana ? lebih baik, jika kita istirahat sejenak, sekedar menenangkan pikiran serta hati kita agar telaga hidup kita yang keruh oleh masalah atau kepahitan menjadi tenang dan jernih, hingga kita dapat melihat dasar dari masalah yang sedang kita hadapi hingga kemudian menemukan inti dari masalah yang sedang dihadapi sampai akhirnya menemukan sebuah penyelesaian yang baik dan keputusan yang tepat.
Dari situ kita kan memperoleh mutiara2 kehidupan yang sangat berharga dan tersemyum dengan liku2 hidup yang telah kita lewati. Dan kita akan menjadi pribadi yang istimewa oleh karena pengalaman yang kita hadapi sepanjang perjalanan yang begitu panjang ini. Jangan pernah menyerah oleh masalah, sebab tak ada masalah yang tak terpecahkan selama kita mau mencari pangkal dari permasalahan itu.
Salvo meliori iudicio.

Minggu, 01 Februari 2009

27 Januari 2009

"Kembali dua puluh ribu saja pak" kataku kepada sopir taksi, yang mengantarku sampai di bandara. "Wah, trima kasih sekali mas, saya di beri untung sama masnya nih." katanya senang. "Buat beli rokok pak." basa-basiku, "Terima kasih ya pak." lanjutku lagi. "Iya mas, selamat jalan."

Aku pun segera menuju counter check in setelah meninggalkan taksi itu.
Langsung saja aku menuju ruang tunggu setelah mendapat boarding pass. Ah lama juga waktu boardingnya, mana gak ada smoking areanya lagi, gerutuku dalam hati. Ya sudah, aku keliling melihat-lihat buku saja dulu, barangkali ada yang bagus untuk dibaca. Aku pun berputar-putar dari satu counter buku ke counter buku yang lain. Capek juga dan sialnya gak ada buku yang menarik. Akhirnya aku pun menyerah. Terpaksa aku duduk menunggu waktu boarding sambil menonton tv yang ada diruang tunggu itu. Hingga tiba-tiba.
"Hai.." terdengar suara merdu seorang gadis.
"Ha..hai.." balasku ragu. Kusimak sejenak wajah gadis yang ada di depanku, sekedar memastikan siapa yang ada di hadapanku. "Mau ke mana?"tanya wajah cantik itu. "Yuliana...? eh..iya aku mau ke Jakarta.." jawabku gagap."Kau sendiri mau kemana?" lanjutku lagi setelah menyadari benar siapa yang ada di depanku. "Ke Jakarta juga. Kamu kenapa sih? kok kaya ngeliat setan gitu?" tanyanya heran. "Ah nggak, aku cuman kaget aja liat kamu di sini." "Oh.. Eh iya,kamu naik pesawat apa?"tanyanya lagi."Aku dengan Mandala, kau sendiri?""Dengan Garuda."
"Wah.. gak bisa sama-sama dong hehehe." kataku sedikit kecewa. "Iya nih, padahal kalo satu pesawat bisa nostalgia ya." katanya menggodaku sambil tersenyum manis. Senyum yang selalu menawanku. "Ah nostalgila kali.. kamu ini bisa aja, jadi mau." balasku. "Kamu sendirian ?"tanyaku kemudian. "Gak, aku dengan suamiku. Kebetulan dia lagi ke toilet." jawabnya."Ohhh..gak bisa nostalgila dong." aku tambah kecewa. "Bisa, kamu nostalgila ama suamiku aja ya." katanya dengan penuh tawa. "Ah emang aku ini apaan."

Kami pun larut dalam obrolan. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Yuliana adalah sahabat plus kekasihku ketika kuliah dulu. Kebetulan kami satu kampus, meski fakultas kami berbeda. Dia fakultas Bahasa, sedang aku fakultas ekonomi. Aku bertemu dia pertama kali saat aku nongkrong di kafe kampus. Ketika itu dia lewat di depanku. Seketika aku terkesiap dengan kecantikannya, cinta pada pandangan pertama orang bilang. Mulanya aku ragu untuk mendekatinya. Maklum, muka pas-pasan sepertiku mana ada cewe yang melirikku, apalagi secantik Yuliana. Hingga akhirnya akupun memutuskan untuk berkenalan dengannya. Dan ternyata perkiraanku itu salah, dia bukan tipe gadis yang sok jual mahal. Ramah malah.


Pendek
cerita kita pun jadi sepasang kekasih. Awalnya aku sedikit canggung setiap kali jalan dengannya. Maklumlah new couple. Tapi lama-lama makin hangat saja hubungan kami. Seakan-akan dunia ini hanya berisi aku dan dia saja. Sebab tiap di situ ada aku, di situpun ada dia. Dulu aku sering menggodanya, atau membuatnya cemburu. Yah sekedar ingin menikmati kecantikannya saja ketika tersenyum atau tertawa. Aku sering kali pura-pura bersembunyi ketika dia tertawa, maklum matanya yang sipit sering terlihat merem ketika tertawa. Dan dia paling jengkel jika aku lakukan itu. Tapi hal yang paling membuatku gemas padanya, ketika dia bermanja-manja terhadapku.

Tapi itu dulu, sebelum dia menikah dengan teman kuliahnya di Jepang. Waktu itu setelah selesai kuliah, dia melanjutkan studinya di Jepang. Kebetulan dia pernah ikut pertukaran pelajar di sana dulu. Sedangkan aku langsung kerja di Semarang. Otomatis komunikasi kami terputus saat itu. Hingga suatu ketika, aku mendapat kabar bahwa dia sudah memperoleh penggantiku. Malah sudah berencana mau menikah. Pantas saja E-mail yang ku kirim jarang sekali di balas, bahkan yang terakhir-terakhir gak pernah dibalas. Rupanya dia sudah punya yang lain di sana. Aku maklumi itu. Hubungan jarak jauh memang sulit.

"Udah boarding belum ?" terdengar suara dari seorang lelaki yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelah Yuliana. "Belum, mungkin masih setengah jam lagi." jawab Yuliana kepada lelaki itu. "Oh ya.. kenalin, ini suamiku." katanya kemudian kepada ku. "Johan." kataku memperkenalkan diri sambil menjabat tangan lelaki itu."Henri." katanya. Jadi ini laki-laki yang merebutmu dariku, pikirku. "Kamu temannya Yuliana ya ?" tanya lelaki itu kepadaku. "Iya, kebetulan dulu kita satu kampus." jawabku. "Oh..teman kampus ya. Sekarang udah kerja ?" tanyanya lagi. "Udah, aku kerja di Jakarta, itung-itung cari pengalaman. Kamu sendiri kerja di Jakarta juga ?" "Gak, aku kerja di sini kok, kebetulan ada urusan keluarga di Jakarta, jadi kita berangkat kesana." "Dia tu dulu pacarku Ko. waktu kuliah, ya kan Jo ?!" sela Yuliana. "Eh..iya. Dulu tapi." jawabku sedikit kaget. "Begitu ya, wah reuni dong." kata Henri. "Ah gak juga, kebetulan aja ketemu di sini. Tapi tenang, aku gak bakal ganggu kalian kok, kan kalian sudah menikah." kataku sambil tersenyum. "Ah jangan begitu dong, aku kan cuman bercanda." "Aku tau Hen, cuman mastiin ke kamu aja biar gak kawatir. hehe."

Akhirnya kami bertukar cerita hingga terdengar panggilan dari bagian informasi bandara bahwa penerbangan mereka akan segera berangkat. Dan akhirnya kamipun berpisah lagi. "OK. Kiata berangkat dulu ya. Kapan-kapan mampir dong ke rumah kalo pas pulang ke Semarang." ajak Henri padaku. "Tentu, lain kali aku mampir deh. Kalo ada waktu tapi." "Harus dong, kalo gak ada waktu, ya di ada-adain dong." kata Yuliana sedikit memaksa. "Iya deh, ntar aku mampir kalo pulang ke Semarang lagi." kataku terpaksa. "Ya sudah, kami berangkat dulu ya." pamitnya. Kami pun berpisah.

Sejenak aku pandang mereka yang kian menjauh pergi dari tempat kami ngobrol tadi. Ah sial, kenapa aku harus kehilangan dia ya. Benakku menyesal. Andai dulu dia gak melanjutkan study di Jepang, mungkin kami sudah menikah. Jodoh. Kata orang jodoh itu di tangan Tuhan, gak bisa diramalkan. Benar juga. Kembali aku duduk termenung.

"Pa, bangun pa ! Sudah waktunya boarding nih." kata seseorang yang mengagetkanku. Akupun terjaga. "Sudah mau boarding ya ma ?" tanyaku setelah sadar. "Iya, papa sih tidur mulu. Cape ya pa ? dah deh ntar tidur lagi di pesawat." katanya lagi. "Ya sudah, ayo berangkat. Limwa mana ?" "Itu di sebelah papa." "Oh iya. Boarding pass udah di siapin ma ?" tanyaku lagi kepada wanita cantik di sebelahku, istriku. "Sudah, ini mama bawa." jawabnya. Dan aku tersenyum riang. "Kenapa sih pa, kok senyum-senyum kaya habis dapet undian aja ?" tanya istriku. "Gak apa-apa, papa senang aja bisa pergi dengan mama." godaku. "Ih genit deh." balasnya sambil tersenyum. "I love you ma." tambahku lagi. "Apaan sih papa." jawab wanita cantik itu. Sekali lagi istriku, Yuliana.

Gate C2

25 Jan 2009, Terminal 1C

Akhirnya sampai juga aku di bandara itu. Sendiri, tengak-tengok kanan kiri tak tau apa yang mau aku lakukan. Yah maklumlah, pergi sendiri dan waktu check in juga masih lama. Tau begini.. mending berangkat agak sore tadi, pikirku. Ya sudahlah, sambil menunggu waktu, lebih baik aku duduk dulu di sini, hitung-hitung sambil liat-liat pemandangan cantik di depan mata. Lama juga aku bengong di luar counter check in memandang tingkah laku gadis-gadis cantik yang centil-centil itu, hingga akhirnya ku putuskan untuk masuk ke counter check in.
"Ke mana pak ?" tanya seorang wanita penjaga counter check in di depanku. "Ke semarang." jawabku singkat. "Counter duabelas ya." terangnya kemudian. Aku pun berlenggang ke counter yang di maksud, setelah mengucap terima kasih tentunya.
Antri sebentar nih, pikirku. "Selamat siang, bisa dibantu?" kata petugas check in di depanku ramah. Aku sodorkan tiket yang ada dalam genggamanku. "Boleh lihat KTP-nya pak?" pinta petugas itu ramah. "Tentu" jawabku sambil merogoh dompet dan mengeluarkan KTP dari dalamnya. Petugas itu pun memeriksa nama yang tertera di KTP, dan dia berkata "OK Checked" setelah yakin nama yang tertera di tiket dan KTP sama.
Setelah beberapa saat menunggu, diapun memberikan boarding pass dan memberi petunjuk Gate mana yang harus aku datangi. Aku pun berlenggang menuju gate C2 sesuai dengan yang tertera pada boarding pass yang ku bawa. Sejenak ku lirik jam di HP ku. Ah.. masih lama juga rupanya, baiklah aku duduk di ruang tunggu ini, bisa sambil merokok, pikirku.
Nikmat juga, maklum dari tadi aku harus menahan napsu untuk mencium istri pertamaku, sebatang rokok yang terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahku. Beberapa hisapan dalam, kunikmati. Hingga kemesraan itu sedikit terusik oleh beberapa penumpang yang datang melewati tempat pemeriksaan.
Dan entah mengapa, saat itu juga aku merasa kau ada di dekat sini, seakan kita pernah berada di tempat ini bersama. Perasaan itu begitu nyata di hadapanku. Dan sejenak, aku terkesiap ketika melihat seorang gadis yang begitu mirip denganmu, Yuliana. Ah...rupanya aku masih saja hidup di bayang-bayang masa lalu. Sial, harusnya aku sudah melupakan dia, yang kini sudah menjadi istri orang lain.
Masa bodoh dengan semua itu, biarlah aku menikmati semua ini sejenak saja, barangkali setelah itu semua hilang. Aku pun terbuai dengan semua perasaan itu, meski sesekali mataku melirik gadis-gadis cantik yang lewat di depanku. Hingga ada seorang penumpang lain yang menghampiriku. "Ke mana mas?" tanya orang itu. "Semarang mas. Mas juga ke Semarang?" kataku kemudian. "Iya, lama gak pulang mas, kangen ama rumah, kebetulan istri mau melahirkan." ceritanya tanpa aku pinta. " Emang rumahnya mana mas?" tanyaku lagi. "Kudus mas, masnya mana?" "Saya Karangjati, Ungaran mas. Lho memang istrinya di tinggal di Kudus mas? trus mas ini dari mana?" aku penasaran. "Iya mas, dulu sih sama kerja di Batam, tapi setelah menikah dia tinggal di Kudus." "Kerja di Batam ya mas..? Berarti transit donk?" tanyaku lagi, tapi dalam bahasa jawa kali ini. "Ya beginilah mas, namanya juga cari nasi." jawabnya. Kamipun larut dalam obrolan, hingga tak terasa waktu boarding tiba, dan kami pun berpisah di ruang tunggu.

Entah kenapa perasaan itu muncul kembali ketika aku duduk di ruang tunggu bandara itu. Yuliana lagi. Apa mungkinkau pernah ada di sini..? Entah.. aku tak tau soal itu. Akhirnya tiba juga waktu boarding. Aku langsung menuju pesawat yang sudah menunggu untuk menerbangkanku ke Semarang, atau malah lebih tepatnya aku yang menunggu. Akhirnya, take off juga. Mungkin memang sedang beruntung kali ya, sudah dapat tiket khusus, pramugarinya cantik lagi. Boleh dunk goda-goda dikit. Kebetulan ada inflight shoping, jadi aku gunakan kesempatan untuk membeli sebuah jam tangan yang cukup unik.

Lagi asik lihat jamnya, Pramugari cantik itu berkata, " langsung pake aja mas, gak pa pa kok.""oh.. ya mbak, emm..boleh tolong pakain gak..?" godaku. Si pramugari hanya tersenyum malu. ah.. dasar penggoda, pikirnya mungkin.

Beberapa saat kemudian aku pun sampai di Semarang, langsung saja aku cari kakakku dan istrinya beserta adikku yang kebetulan sudah menunggu di tempat parkir mobil. Mereka baru saja menjemput kakaku yang juga baru sampai di Semarang. Memang aneh, sama-sama pulang dari Jakarta, tapi jalan sendiri-sendiri. Pulang bareng pun setelah tiba di Semarang. Salah satu keanehan keluarga Wijaya. Apa mungkin sejak jaman pendiri keluarga Wijaya dulu sudah begitu ya..? Tapi mungkin juga begitu, mengingat R. Wijaya harus bersembunyi dan berperang melawan musuh sebelum mendirikan istananya, Majapahit.

Salvo Meliori Iuditio...

Jumat, 09 Januari 2009

Pembuat Peti

Aku heran,
dalam benak aku bertanya
begitu dia yakin
kematian selalu berpinta.

Pasahnya selalu hangat
oleh serpihan kayu
rautannya.
Palunya tak pernah diam
mamanggil kematian
dari balik jerit paku-paku tajam.

Berhari-hari
dielusnya, diukirnya kayu-kayu
lebar, tanpa ketiadaan ngeri
menanti kematian
seperti angin,
yang lewat tanpa menyapa,
yang berbisik tanpa suara....

Kamis, 08 Januari 2009

Menanti Akhir Waktu

Menyapu lantai waktu
menunggu semilir,
semusim gugur.
Saat dingin mengintip
hari,
bekukan setiap ranting.

Sungai berbau anyir.
Tanah menari,
berselimut kabut
aroma bangkai.

di situ..
di tempat itulah..
tarian malam
merayu, menyapu
wajah-wajah lugu,
penghuni batu-batu
kesedihan.