Membayangmu dibalik
detik silam di waktu kini
selipkan beku tajam
yang menyisakan sesak di
rongga pernafasan
seakan kau ingin menitipkan
segan di balik lipatan
hati yang kian merintih
peri
salahkah aku jika ingin
menyalahkanmu ?
atau memang itu maumu ?
Nahan don ing umastuti pada nirahyun umiketa kathe nareswara sang sri natha ri Wilwatikta haji Rajasawijaya wisesa bhupati saksat janma bhatara natha sira n anghilangaken i kalangka ning praja henty ang bhumi Jawatibhakti manukula tumuluyi tekeng dirgantara.
Rabu, 11 Agustus 2010
Apalah artinya.....
Kalo boleh aku memilih..
mungkin akan lebih baik jika Nararya Sangramawijaya
tak pernah naik tahta...
dan biarlah wangsa Rajasa hanya sampai pada Kertanegara saja,
tak perlu diteruskan oleh wangsa wijaya sebagai keturunannya
hingga tak perlu perebutan tahta di kasunanan surakarta ataupun tak terjadi perang saudara yang mewarnai keruntuhan wilwatikta.
bahkan mungkin di keluarga ini tak akan ribut mengenai warisan atau apalah itu...
Dan jika boleh...biarlah aku terlahir tanpa darah wijaya itu mengalir di tubuhku,
seandainya dengan demikian semua ini tidak terjadi.
Jika boleh aku menangis...
ingin kulampiaskan semua seperti ketika dahulu aku menangis sebagai dirimu ketika perang bubat yang merenggut nyawa calon pendamping hidupmu yang masih berhubungan darah dengan leluhurku. Aku tau, kau pun sedih melihat anak2mu ini bertengkar, bahkan memusuhi ayahnya sendiri meski bukan keinginan mereka untuk bertengkar, dengan mata ku ini sebagai mata mu di masa ini...dan kau menjadi mataku di kenangan masa lalu...
Terpikir olehku dan juga kau, seandainya tak pernah ada Wijaya atau bahkan Sang Amurwabhumi, mungkin keluarga ini menjadi lebih baik...karena ternyata, kutukan pusaka itu seakan masih menancapkan akarnya dari perselisihan yang ada meski keris itu telah dimusnahkan.
Kau bilang padaku, percuma menyandang nama besar Maharaja ri Wilwatikta yang menguasai nusantara jika keluarga ini demikian menderita.
Tapi mampukah aku memperbaiki semua ini..?
atau kita menyerah saja dan membiarkan semua terjadi begitu saja...?
Pedih hati ini melihat semua yang terjadi...sepedih dia yang telah mangkat melihat perpecahan dalam istana. beberapa tahun lalu kita bertemu dengannya, meski hanya sepenginang saja sudah cukup menjelaskan segalanya... ketika tiga generasi bertemu di dalam waktu yang sama dan di tempat yang sama...aku tau kita saling bicara meski tak sepatah kata kita ucapkan, kau marah karena dia tak mengangkat pengganti, dan dia menemuiku suatu malam untuk tugas berat ini, dan kau hanya diam.
Dan kini semua jadi seperti ini, tanpa aku tau harus berbuat apa.
Seakan percuma kau lahir kembali sebagai aku, meski kau sebagai leluhur dan pembimbingku jika tak bisa menyelesaikan semua ini. aku tak marah atau menyalahkanmu, tapi apalah artinya jika aku hanya bisa diam tanpa bisa berbuat untuk mengakhiri semua ini seperti kau dulu mengakhiri pertikaian orang2 yang melakukan pepe di halaman istana megah itu.
Satu hal yang menyesakkan dadaku...
kakek yang kusayangi begitu memprihatinkan seolah menjadi bahan limpahan kesalahan yang tak kutau dari mana berasal. Jika harus berteriak...aku akan berteriak lantang, selantang Mpu Mada yang meneriakkan sumpahnya. Benci aku dengan semua ini, kenapa semua jadi memusui...? tidak ingatkah ketika kecil mereka di beri makan...?
ternyata percuma jg babtisan itu, jika semua mengandalkan ego sendiri yang akhirnya dia mengalah meski sebenarnya kemarahan anak2nya atas dasar cinta pada beliau juga...
meski kemudian sedikit kebablasan....
Hancur rasa ini...jika aku bisa lakukan sesuatu, ingin ku tiadakan kisah ini. tapi apa boleh dikata, memang ini jalan yang harus dilewati, memang ini kisah hidup keluarga ini yang tak pernah berubah sejak dulu bermula. semoga aku bisa merubahnya, dan semoga Tuhan memberi jalan menuju hidup yang lebih baik.
Dan semoga setiap kesalahan menjadi pelajaran bagi kehidupan ini menjadi lebih baik...
hulun tan ingaran, Rajasawijaya ring nguni saka drestisaptaruna telasinaswaken prabhu, sang sri natha ri Wilwatikta haji Rajasa Nagara wisesa bhupati saksat janma bhatara natha siran anghilangaken i kalangka ning praja hentyang bhumi Jawa ti bhakti manukula tumuluyi tekeng dirgantara.
mungkin akan lebih baik jika Nararya Sangramawijaya
tak pernah naik tahta...
dan biarlah wangsa Rajasa hanya sampai pada Kertanegara saja,
tak perlu diteruskan oleh wangsa wijaya sebagai keturunannya
hingga tak perlu perebutan tahta di kasunanan surakarta ataupun tak terjadi perang saudara yang mewarnai keruntuhan wilwatikta.
bahkan mungkin di keluarga ini tak akan ribut mengenai warisan atau apalah itu...
Dan jika boleh...biarlah aku terlahir tanpa darah wijaya itu mengalir di tubuhku,
seandainya dengan demikian semua ini tidak terjadi.
Jika boleh aku menangis...
ingin kulampiaskan semua seperti ketika dahulu aku menangis sebagai dirimu ketika perang bubat yang merenggut nyawa calon pendamping hidupmu yang masih berhubungan darah dengan leluhurku. Aku tau, kau pun sedih melihat anak2mu ini bertengkar, bahkan memusuhi ayahnya sendiri meski bukan keinginan mereka untuk bertengkar, dengan mata ku ini sebagai mata mu di masa ini...dan kau menjadi mataku di kenangan masa lalu...
Terpikir olehku dan juga kau, seandainya tak pernah ada Wijaya atau bahkan Sang Amurwabhumi, mungkin keluarga ini menjadi lebih baik...karena ternyata, kutukan pusaka itu seakan masih menancapkan akarnya dari perselisihan yang ada meski keris itu telah dimusnahkan.
Kau bilang padaku, percuma menyandang nama besar Maharaja ri Wilwatikta yang menguasai nusantara jika keluarga ini demikian menderita.
Tapi mampukah aku memperbaiki semua ini..?
atau kita menyerah saja dan membiarkan semua terjadi begitu saja...?
Pedih hati ini melihat semua yang terjadi...sepedih dia yang telah mangkat melihat perpecahan dalam istana. beberapa tahun lalu kita bertemu dengannya, meski hanya sepenginang saja sudah cukup menjelaskan segalanya... ketika tiga generasi bertemu di dalam waktu yang sama dan di tempat yang sama...aku tau kita saling bicara meski tak sepatah kata kita ucapkan, kau marah karena dia tak mengangkat pengganti, dan dia menemuiku suatu malam untuk tugas berat ini, dan kau hanya diam.
Dan kini semua jadi seperti ini, tanpa aku tau harus berbuat apa.
Seakan percuma kau lahir kembali sebagai aku, meski kau sebagai leluhur dan pembimbingku jika tak bisa menyelesaikan semua ini. aku tak marah atau menyalahkanmu, tapi apalah artinya jika aku hanya bisa diam tanpa bisa berbuat untuk mengakhiri semua ini seperti kau dulu mengakhiri pertikaian orang2 yang melakukan pepe di halaman istana megah itu.
Satu hal yang menyesakkan dadaku...
kakek yang kusayangi begitu memprihatinkan seolah menjadi bahan limpahan kesalahan yang tak kutau dari mana berasal. Jika harus berteriak...aku akan berteriak lantang, selantang Mpu Mada yang meneriakkan sumpahnya. Benci aku dengan semua ini, kenapa semua jadi memusui...? tidak ingatkah ketika kecil mereka di beri makan...?
ternyata percuma jg babtisan itu, jika semua mengandalkan ego sendiri yang akhirnya dia mengalah meski sebenarnya kemarahan anak2nya atas dasar cinta pada beliau juga...
meski kemudian sedikit kebablasan....
Hancur rasa ini...jika aku bisa lakukan sesuatu, ingin ku tiadakan kisah ini. tapi apa boleh dikata, memang ini jalan yang harus dilewati, memang ini kisah hidup keluarga ini yang tak pernah berubah sejak dulu bermula. semoga aku bisa merubahnya, dan semoga Tuhan memberi jalan menuju hidup yang lebih baik.
Dan semoga setiap kesalahan menjadi pelajaran bagi kehidupan ini menjadi lebih baik...
hulun tan ingaran, Rajasawijaya ring nguni saka drestisaptaruna telasinaswaken prabhu, sang sri natha ri Wilwatikta haji Rajasa Nagara wisesa bhupati saksat janma bhatara natha siran anghilangaken i kalangka ning praja hentyang bhumi Jawa ti bhakti manukula tumuluyi tekeng dirgantara.
Langganan:
Postingan (Atom)