Aku heran,
dalam benak aku bertanya
begitu dia yakin
kematian selalu berpinta.
Pasahnya selalu hangat
oleh serpihan kayu
rautannya.
Palunya tak pernah diam
mamanggil kematian
dari balik jerit paku-paku tajam.
Berhari-hari
dielusnya, diukirnya kayu-kayu
lebar, tanpa ketiadaan ngeri
menanti kematian
seperti angin,
yang lewat tanpa menyapa,
yang berbisik tanpa suara....
Nahan don ing umastuti pada nirahyun umiketa kathe nareswara sang sri natha ri Wilwatikta haji Rajasawijaya wisesa bhupati saksat janma bhatara natha sira n anghilangaken i kalangka ning praja henty ang bhumi Jawatibhakti manukula tumuluyi tekeng dirgantara.
Jumat, 09 Januari 2009
Kamis, 08 Januari 2009
Menanti Akhir Waktu
Langganan:
Postingan (Atom)
