Nahan don ing umastuti pada nirahyun umiketa kathe nareswara sang sri natha ri Wilwatikta haji Rajasawijaya wisesa bhupati saksat janma bhatara natha sira n anghilangaken i kalangka ning praja henty ang bhumi Jawatibhakti manukula tumuluyi tekeng dirgantara.
Kamis, 18 Desember 2008
Rectoverso...
tanpa ku tau
dalam, batas
akhirnya.
Hanya batas
nafas saja yang ku yakin
pasti tiba.
Bak pembuat nisan,
yang begitu yakin
kematian selalu tiba
selalu berpinta.
Di lorong itulah,
sadar atau
tidak
aku terjebak.
Tanpa memandang
birunya langit
di senja hari,
jingganya mentari siang,
dan indah rembulan
di tengah taman.
Rabu, 17 Desember 2008
Salah Siapa
Sketsa-sketsa yang dia buat selalu terlihat seperti kehidupan lain
yang jauh dari kehidupannya. Ibarat membandingkan takdir manusia di
rasi zodiak capricorn di awal bulan Januari dengan rasi zodiak
sagitarius di awal bulan Desember, bisa sangat dekat tapi bisa juga
terlampau jauh dari sudut pandang dan perhitungan berbeda.
Kalau aku bilang, dia terlalu berani memilih warna-warna terang tapi
dia selalu mengoceh tiap aku berkomentar. Aku pengamat sekedar, begitu
caranya menunjukkan kekesalannya akan kesoktahuanku. Benar saja, aku
selalu melihat hidupnya yang gelap yang kuakui bisa dilaluinya dengan
susah payah, dan kubandingkan dengan lukisannya yang selalu bercorak
abstrak dengan warna-warni seperti pelangi. Jauh berbeda.
Dan dia selalu mengoceh kalau aku berani berkomentar. Katanya aku
hanya pikiran, yang selalu berkata salah tiap dia bilang benar. Aku
hanya setan yang mampir di sebelah kirinya dan beradu pendapat dengan
malaikat bersayap di sisi kanannya.
"Apa arti lukisan ini?" ah, turis-turis bodoh selalu menanyakan itu
tiap mampir ke galeri, yang lebih bodoh, dia akan tersenyum tawar dan
menjawab dengan berlagak sok karismatik.
Kalau kubilang pelukis miskin selalu begitu, mengiba dengan senyuman
dan tuturan kata manis di depan pelanggan yang mungkin menimang
berjuta dolar di tasnya yang bermerek mahal.
Aku sudah bilang lukisannya jelek. Sudah kubilang warna-warnanya
terlalu terang dan membuat mataku perih. Sudah kubilang seharusnya dia
membeli acrylic yang lebih mahal untuk mewarnai kubik-kubik aneh yang
dia bentuk di kanvas itu.
"Kenapa mengambil aliran seperti ini?" pengamat lukisan yang sok
pintar biasa bergumam seperti itu, biasanya mereka berkaca mata dan
bertopi bulat berukuran kekecilan dengan warna gelap, rambut mereka
sudah beruban, dan wajah mereka dipaksakan kelihatan bijaksana.
Lagi-lagi dia akan memelas pujian dari kakek-kakek renta seperti itu,
menawarkan bahwa nama-nama besar luar negerilah yang menginspirasi
lukisan-lukisan yang dia garap. Cih, geli aku dibuatnya, dia toh
terlalu miskin untuk tahu sejarah seni di negeri barat.
Dan dia pergi ke
paling penting ketika ada bule yang bertandang. Aku diajaknya ikut,
menyumpah serapah padanya tiap dia tidak mendengar racauanku.
Sejak dulu dia tak pernah mendengarkan pendapatku. Sudah kubilang,
dulu sewaktu lulus SMP, dia tidak harus masuk SMK supaya bisa langsung
bekerja. Dia bisa saja masuk SMA, biar bisa jadi dokter seperti si
Adit temannya yang bodoh yang anak gubernur itu. Tapi dia bersikeras
bilang orang tuanya miskin, mana punya uang untuk melanjutkan sekolah
tinggi-tinggi.
Sudah kubilang dia bisa mengambil bantuan saja dari Pak Lurah, dia
pintar karena bisa jadi
bantuan pemerintah semuanya tipuan, seperti negeri maya di dalam
dongeng-dongeng.
"Hai, Adi!"
Dia berbalik tiba-tiba, membuatku blingsatan kanan-kiri.
"Adi, kau jadi pelukis ya, sekarang? Wah, hebat, nih. Apa kabar kau?
Sudah kawin belum?" baru aku cerita tentang si Adit murid bodoh yang
anak gubernur itu, sekarang dia dengan angkuhnya mengulurkan tangan.
Aku bilang padanya untuk tidak usah berbasa-basi, tapi dia malah
mengacaukan segalanya, dijabatnya tangan si Adit itu, "Ah, belum, aku
belum menikah. Kabarku, begini-begini saja, tidak sehebat kau, Dit.
Kudengar kau sudah jadi dokter, ya? Kau sendiri, sudah kawin belum?"
Kujamin dia akan menyesali basa-basinya itu, masih ingat aku dengan
tingkah sombong si Adit tiap pamer oleh-oleh yang dibawakan orang
tuanya yang kaya dari Singapur atau Eropa.
"Ah, kau ini bisa saja, mana mungkin aku kawin semuda ini, Di." Tangan
Adit meremas dengan gestur yang tak bisa kuartikan. Dia tersenyum
sungkan dan wajahnya merah padam. Aku bilang mungkin si Adit itu
mengidap homoseksual, dan dia malah tersenyum-senyum saja.
"Kau tampan begini. Mana ada cewek yang nolak kamu, Dit. Sudah dokter,
anak orang kaya, tampan.. apa yang kurang?" entah dari mana dia
mendapat kalimat pujian sinting itu, aku sudah bilang padanya untuk
pergi, tatapan Adit mengerikan, sudah kubilang, Adit pasti homoseks.
"Aku suka lukisan-lukisanmu, Di."
Bah! Apa dia bilang? Nadanya kemayu seperti wanita.
Tidak, Adit begitu perkasa. Begitu dia mendebatku, katanya, mana
mungkin lelaki perkasa mengidap penyakit yang hampir sama jenisnya
dengan ejakulasi dini.
"Kalau kau suka, kenapa tidak kau beli semuanya?" Sinting! Ditaruh di
mana mukanya waktu bicara begitu? Sudah kuingatkan dia, sewaktu kedua
orang tuanya yang hanya pekerja serabutan dan buruh cuci dikata-katai
gembel di depan semua murid-murid di SMP-nya.
"Sudah kusuruh asistenku memesan semua lukisanmu dari pemilik galeri
ini." begitu si Adit homoseks itu menjawab.
Kau akan dimanfaatkan!
Dan dia malah tersenyum, "Sahabat lamaku telah kembali." Basa-basi apa
lagi yang mau dia perpanjang?
"Bagaimana kalau kau kuundang ke rumahku? Aku mau kau melukis aku dan
keluargaku." Tuh, sudah kubilang, pasti ada niatan terselubung.
Tatapan matanya aneh!
"Oh, oke. Minggu ini aku tidak ada acara." Padahal sudah kubilang, dia
harus pulang kampung karena Ayahnya sedang sakit.
Biar saja buruh itu mati , begitu dia menghentikan ocehanku sepanjang
jam setelah kepergian Adit dengan semua lukisannya.
Seminggu kemudian, Ayahnya benar mati dan di saat dia harusnya datang
ke acara pemakaman Ayahnya, si Adit itu menelepon, "Sayang, lukis aku
lagi ya, malam ini."
Dan dia membanting ponselnya. Sudah kubilang, kau akan menyesal!
Diam kau pikiran! Begitu dia menghardikku marah.
Kubilang, ambil saja pisau di dapurnya yang lembab dan bau telur
busuk, dia malah terduduk di pojok, mengambil kuas dan kanvasnya.
Dan dia melukis dengan warna gelap, tidak lagi berbentuk kubik. Dia
melukis kematian.
Apa kubilang, lukisanmu memang harusnya berwarna gelap, seperti
hidupmu. Aku menudingnya telak.
Dan dia membanting kuasnya, mengangkat lalu melempar kanvasnya keluar
jendela apartemennya.
Berbarengan, dia menerjunkan tubuhnya juga.
Padahal sudah kubilang seharusnya dia mengambil pisau saja di dapur
dan menusuk dadanya ketimbang dia harus kehilangan kepalanya juga
kehilangan aku dalam pikirannya.
Dasar laki-laki bodoh.
Mohon dibantu ya...
yang tau id n password wordpress gue sapa ya...?
waduh.. sial bener nih...
lama gak buka jadi lupa...
Cengel ni gara2nya...
tolong yang tau ya...
Ngel alias MP lo inget gak..?
Selasa, 16 Desember 2008
Sumber kekuatan baru...
belantara,
tempat akhir bagi
kawanan rusa.
Tapi di balik
celah gelap itu,
ulat sutra telah
menjadi kupu-kupu
yang cantik jelita.
kagum aku,
menyaksikan kemolekan
dan indah sayapnya.
Dari situlah
kekuatan baru
muncul.
Dan aku
siap tempur
bersama pasukan yang,
yang menyala,
siap menikam lawan.
Senin, 15 Desember 2008
Tidur sejenak saja...
membuatku lemah.
Pasukanku pun sudah mulai
kocar kacir.
sedang musuhku,
mereka semakin kuat saja.
Ahk...
semakin terdesak aku.
pasukanku sudah mulai lelah,
berhari-hari bahkan
berminggu-minggu,
mereka bertempur.
ransum pun mulai
habis.
Sebaiknya
ku tarik mundur dulu
pasukanku...
sekedar menyusun siasat
dan taktik selanjutnya.
Paling tidak pasukanku
juga bisa bersemangat kembali.
Baiklah..
kutarik mundur saja
pasukanku sekarang.
Beristirahat
dalam tenangnya malam
masuk ke pelukan
kelam.
Rabu, 10 Desember 2008
Yamadipati
dalam lamun,
mereguk mimpi, yang
lama tercenung.
Bukankah esok tiba,
hujan menerpa.
Saat badai menyapa,
merayu bulir-bulir
jiwa.
Bermandi ayu,
paras pesona, dingin kaku.
Senin, 08 Desember 2008
Hanami Part II
Hm....
Bulan ini tepat Dua tahun yang lalu, kita berpisah. Memang tak untuk waktu yang lama, tapi itu permulaan dari akhir cerita.
Waktu itu hari Jumat siang. Seperti biasa kau sendirian sedang membeli makanan kecil di depan kampus. Saat itu aku sedang sibuk mengerjakan tugas akhir perkuliahan. Tapi kebetulan aku lewat dan melihatmu, lalu kuhampiri dirimu. Seperti biasa juga, tetap kugoda dirimu yang sedang menunggu penjual siomai itu mempersiapkan pesananmu. "Beli berapa neng..?" tanyaku saat itu. "Aku gak di kasih nih ?" lanjutku lagi. Dan kau hanya tersenyum, dan kemudian berlagak sok gak kenal. Tapi kau tersenyum juga akhirnya. "Mau ?" tanyamu. "Beli sendiri ya." lanjutmu saat itu. Lalu aku pun berlenggang menuju ke rumah temanku, dan kau...aku tak tau kemana. Aku tak sempat tanya. Tapi setengah jam kemudian kita ketemu lagi. Sperti orang yang belum kenal saja waktu itu. Yah maklum, aku sedang pusing dengan paper yang sedang ku kerjakan. Aku sempat bertanya,"mau ke mana ?". "Ke situ." jawabmu singkat. "Oh.., sendirian ?" lanjutku lagi. "Iya. Kamu mau ke mana ?" tanyamu kemudian. "Mau ke gedung G, anak-anak pada di sana soalnya. sendirian gak pa pa nih ?" tanyaku lagi. "gak pa pa". Lalu kita berjalan masing-masing.
Setelah itu, kau pulang ke kampung halaman hingga hari wisuda tiba. Aku tau, mungkin kau kecewa karena aku tak datang ke acara wisuda itu. Sebenarnya aku ada di kampus saat itu, hanya aku terlambat. Dan kau tau soal itu, sebab kau terima sms dariku meski baru sore harinya kau balas smsku itu.
Setelah itu kita hanya berhubungan melalui sms atau email. Sebab
waktu itu kau langsung berangkat menuju negri matahari terbit. Masih kuingat juga ketika aku kirim komentar melalui fs sekedar menggodamu, dan jawabmu :"Testimu kok aneh2to, minta bungkusin cewe
segala. Ya pasti lah disini cewenya cantik2 modis2kan emang terkenal style nya di jp.
Tapi tetep lah semuanya masih dibawah
gue...hahahaha...jk." masih tetap ceria seperti dulu.
Semula aku mengira kau akan bekerja di sana, mengingat, dulu kau pernah belajar di negri itu, tapi ternyata kau hanya ingin berkunjung ke rumah saudaramu.
Tapi meski kita terpisah jarak dan waktu, tetap bernuansa indah. Apalagi ketika hari Valentine kukirimi kau puisi, kalo kirim bunga ato coklat nyampenya lama kali, dan sekedar mengomentari fotomu yang cantik, lalu kau membalas :
"He-eh tuh puisine norak banget to, cinta2an
gitu...heehehe...
Pura2bego ah di friendsterku ya mestinya
photo2ku dong. Ada juga beberapa ama temen,
tapi kan mesti tetep gw pemeran
utamanya..hehehe... Have a nice Val day! gbu!"
Ah... ni anak gak ada hangat-hangatnya pikirku, tapi mungkin juga sudah menjadi kebiasaan, sebab dia tau aku lebih suka dihina daripada diberi kata-kata yang sentimentil. Soalnya dia tau, pasti akan kuputar balik kata-kata itu jadi tak karuan maksudnya.
Bersambung lagi...
dah cape mikirnya...hehehehehe
Minggu, 07 Desember 2008
Chevalier de la table ronde
Goutons voir si le vin es bon
Goutons voir, oui, oui..
Goutons voir, non,non
Goutons voir si le vine es bon
S’il est bon s’il est agreable
J’en boirai jusqu ‘a mon plaisir
Les deux pieds contre la muraille
Et la tete sous le robinet
Et s’il en reste quelques gouttes
Ca sera pour nous rafraichir
Si je mears je veux qu ‘ on m’enterre
Dans une cave ou il y a du bon vin
Sur ma tombe je veux qu ‘ on inscrive
Ici git le Roi des bu veurs.
Maling Sial...
rupanya, dasar maling
pikirmu bisa dengan
mudah mencuri permata jiwaku ?!
jangan harap bisa
lolos dariku ya..
Baiklah,
kan kusergap kau.
Kukeluarkan jurus andalanku
timalah ini
hiat.....
Kena telak...
mampus kau..
hah...! aku ternganga.
Dia berubah jadi asap ?
ah sial..
aku terkena jurus
ilusi rupanya...