Ketika semua tampak buram
saat senja merayap pelan
gelapkan setiap
kolong langit yg
mulai temaram.
Langkah gontai
penyair malam
isyarat kelelahan,
jalan yang dulu lebar
kini menyempit
pelan
dipagari ilalang
yang rimbun
membuat gatal.
Jalan setapak itu
kian buram oleh malam
bulan pun hanya
memberi tampakan
keperakan.
Semua sunyi
semua diam
tenang tak berucap
seakan hari hilang
ditelan hitam.
Lalu dimana
kunang-kunang yang
semarakkan malam
punah atau
malas meninggalkan sarang?
Ah..
biarlah
sunyi bukan berarti mati
gelap bukan berarti
meratap,
sebab...
sunyi menyandarkan
diri pada
bahu malam sekedar
istirahat sejenak dari
kekisruhan.
Nahan don ing umastuti pada nirahyun umiketa kathe nareswara sang sri natha ri Wilwatikta haji Rajasawijaya wisesa bhupati saksat janma bhatara natha sira n anghilangaken i kalangka ning praja henty ang bhumi Jawatibhakti manukula tumuluyi tekeng dirgantara.
Selasa, 11 Agustus 2009
Senin, 10 Agustus 2009
Menanti Selumbar Kematian
Datang dalam senyap
menyusup dalam angin malam
yang tenang
tanpa sapaan tanpa
teguran
Hanya lewat tanpa bekas
tak mengejak
tak memberi jeda
sehela nafas
tak terlihat bentang
hanya sejengkal
sudah di hadapan
Menikam dalam
membenam kematian
tanpa memandang dalam
ketiadaan
Dalam keyakina
melalui kepastian dia
datang menjemput tanpa
kesiapan.
menyusup dalam angin malam
yang tenang
tanpa sapaan tanpa
teguran
Hanya lewat tanpa bekas
tak mengejak
tak memberi jeda
sehela nafas
tak terlihat bentang
hanya sejengkal
sudah di hadapan
Menikam dalam
membenam kematian
tanpa memandang dalam
ketiadaan
Dalam keyakina
melalui kepastian dia
datang menjemput tanpa
kesiapan.
Langganan:
Postingan (Atom)