Ku persembahkan dewa kematian di atas talam keemasan
Sekedar membuatmu tenang, hingga fajar menjelang
Biar dia terkapar, sebab kematian lapar melahap
Kehidupan.
Di balik peraduan kau tetap diam
Acuhkan semua teriak hausku seperti tak pernah kau dengar,
Atau memang kau tuli?
Tuli hatimu hingga tak mendengar lagi
Bisik lembut yang berkata : “aku terima”
Apalagi yang harus ku bawa, supaya kau percaya ?
Apa?
Nahan don ing umastuti pada nirahyun umiketa kathe nareswara sang sri natha ri Wilwatikta haji Rajasawijaya wisesa bhupati saksat janma bhatara natha sira n anghilangaken i kalangka ning praja henty ang bhumi Jawatibhakti manukula tumuluyi tekeng dirgantara.
Sabtu, 23 Mei 2009
Penantian Senja
Bulan datang bersama angin
Menjamu malam dengan cahaya keperakan,
Suguhkan nyanyian serangga yang
Mencari pasangan, senandungkan syair penantian
menanyakan pada hantu-hantu lapar : kapan dia datang?
Tanganmu menggigil, berharap kehangatan
Menggenggam tubuhmu yang kedinginan,
Bukankah sudah aku tawarkan?
Lalu bagaimana aku meyakinkan?
Bagaimana?
Menjamu malam dengan cahaya keperakan,
Suguhkan nyanyian serangga yang
Mencari pasangan, senandungkan syair penantian
menanyakan pada hantu-hantu lapar : kapan dia datang?
Tanganmu menggigil, berharap kehangatan
Menggenggam tubuhmu yang kedinginan,
Bukankah sudah aku tawarkan?
Lalu bagaimana aku meyakinkan?
Bagaimana?
Selasa, 19 Mei 2009
Temaram Senja
senja menyelinap
di balik butir
embun pagi
menyucup segar angin sore,
sehingga dia basah kuyu, tenggelam dalam awan jingga.
tubuhmu menggigil, seakan dingin memeluk eratmu.
di balik butir
embun pagi
menyucup segar angin sore,
sehingga dia basah kuyu, tenggelam dalam awan jingga.
tubuhmu menggigil, seakan dingin memeluk eratmu.
Terjerat Asmara
terlampir seutas desah
di pundak-pundak kata
mengiring gemericik air
kolam yang mendesah
keenakan
ku tengok
balai-balai redup
seiring bunyi derit
tilam bambu usang
merengek
menahan beban yang bergerak-gerak
penuh irama
malam kesepian
lunglai
kata menepis rasa
membalut aroma
puspa nestapa
membelai lembut
bunga cinta
mereguk manis anggur
asmara.
di pundak-pundak kata
mengiring gemericik air
kolam yang mendesah
keenakan
ku tengok
balai-balai redup
seiring bunyi derit
tilam bambu usang
merengek
menahan beban yang bergerak-gerak
penuh irama
malam kesepian
lunglai
kata menepis rasa
membalut aroma
puspa nestapa
membelai lembut
bunga cinta
mereguk manis anggur
asmara.
Jumat, 15 Mei 2009
Merajut Sunyi
kau tetap diam
meski kata melompat
di atas
lembar elektronik yang
berderak-derak mengirim pesan
bisakah kau berucap
sekedar membasahi dermaga
kering berdebu...
atau kau akan tetap membisu
dalam beku hawa kutub utara
dan
tetap kunanti jawabmu...
meski kata melompat
di atas
lembar elektronik yang
berderak-derak mengirim pesan
bisakah kau berucap
sekedar membasahi dermaga
kering berdebu...
atau kau akan tetap membisu
dalam beku hawa kutub utara
dan
tetap kunanti jawabmu...
Abu Solusi
abu solusi
menebar terang kemunafikan
merebahkan keresahan
di atas tilam-tilam
peraduan
bara asmara
berlompatan di atas
lembayung-lembayung cinta
menidurkan kata
yang sejak semula diam
memendam angkara
bungkam sengsara
menebar terang kemunafikan
merebahkan keresahan
di atas tilam-tilam
peraduan
bara asmara
berlompatan di atas
lembayung-lembayung cinta
menidurkan kata
yang sejak semula diam
memendam angkara
bungkam sengsara
Terasing
serigala terkapar
pada lembar-lembar
keterasingan yang lembab
oleh embun malam
atau dirimu yang resah ?
pada lembar-lembar
keterasingan yang lembab
oleh embun malam
atau dirimu yang resah ?
sesak menyesak
kemana kata pergi
menjunjung tilam
pesakitan
limpahkan sesal kerinduan
dalam tuangan anggur
kemabukan
kata pergi mencari
kekasih
ditengah savana
pasetran perang
tuangkan nanah
kebakaan
menjunjung tilam
pesakitan
limpahkan sesal kerinduan
dalam tuangan anggur
kemabukan
kata pergi mencari
kekasih
ditengah savana
pasetran perang
tuangkan nanah
kebakaan
klausa sepi
sekumpulan tinta
berbaring di atas meja
diam membisu
tak ada kata-kata yang tercetak
yang biasanya
melompat-lompat di
atas tilam putih
bergaris rapi
masih tertidur
lelap
berbaring di atas meja
diam membisu
tak ada kata-kata yang tercetak
yang biasanya
melompat-lompat di
atas tilam putih
bergaris rapi
masih tertidur
lelap
Sabtu, 02 Mei 2009
Meniti Alam Padewan...
Anyir aroma kematian
yang bergelimpang
dibalik kafan-kafan
hitam
yang dikerubuti binatang
binatang jalang
menyantap hidangan
akbar di tengah-tengah
pasetran agung
sisa perang keangkaraan.
yang bergelimpang
dibalik kafan-kafan
hitam
yang dikerubuti binatang
binatang jalang
menyantap hidangan
akbar di tengah-tengah
pasetran agung
sisa perang keangkaraan.
Jumat, 01 Mei 2009
Hampir Sampai Sudah
Hampir sampai sudah
ketika koma
tercoret dibayang
huruf-huruf hitam berjajar
ketika tinta
pena menari gemulai
di atas secarik kertas
Jeda
memang agak lama
sebelum kata-kata terakhir
akan tertuang
menjadi akhir bab cerita lalu
yang ditutup
dengan titik
Dan semua berakhir di
situ
sebelum bab baru
mulai tergores
di lembar berikutnya
mengukir cerita
dalam kisah selanjutnya
.
ketika koma
tercoret dibayang
huruf-huruf hitam berjajar
ketika tinta
pena menari gemulai
di atas secarik kertas
Jeda
memang agak lama
sebelum kata-kata terakhir
akan tertuang
menjadi akhir bab cerita lalu
yang ditutup
dengan titik
Dan semua berakhir di
situ
sebelum bab baru
mulai tergores
di lembar berikutnya
mengukir cerita
dalam kisah selanjutnya
.
Sampai di mana ?
Ribuan kilo aku lewati
menyusuri parit-parit
dalam
hingga tenggelam dalam
kubangan hitam.
Letih berjalan
ditemani kerikil-kerikil tajam
yang menghibur dalam
kesakitan.
Hitam
kelam
lumpur hidup yang
terhampar
mencari sejengkal
tanah
bakal persemayaman kekal.
menyusuri parit-parit
dalam
hingga tenggelam dalam
kubangan hitam.
Letih berjalan
ditemani kerikil-kerikil tajam
yang menghibur dalam
kesakitan.
Hitam
kelam
lumpur hidup yang
terhampar
mencari sejengkal
tanah
bakal persemayaman kekal.
Peripih perih...
Lama aku menanti
mendengar riuh kicaumu
namun,
tiap kali ku sapa dirimu
hanya kibasan sayapmu
yang menyibakkan wajahku
Bencikah kau
pipit kecilku
hingga tak lagi
bersenandung bagiku
atau memang kau
sudah lupa
akan kurcaci ini...
baiklah
esok aku kan menjeratmu
dengan kidung-kidung
cinta yang membawamu
dalam buai
puisi jiwa.
tempat kau menari dalam
sangkar hati
pujangga sepi.
mendengar riuh kicaumu
namun,
tiap kali ku sapa dirimu
hanya kibasan sayapmu
yang menyibakkan wajahku
Bencikah kau
pipit kecilku
hingga tak lagi
bersenandung bagiku
atau memang kau
sudah lupa
akan kurcaci ini...
baiklah
esok aku kan menjeratmu
dengan kidung-kidung
cinta yang membawamu
dalam buai
puisi jiwa.
tempat kau menari dalam
sangkar hati
pujangga sepi.
Langganan:
Postingan (Atom)