"Lidah seperti pedang bermata dua". Sering kali kita terlambat menyadari kesalahan kita sendiri bahkan sering juga tidak menyadarinya, tetapi kita lebih cepat melihat kesalahan orang lain. Banyak dari kita sadar atau tidak lebih senang membicarakan kesalahan ataupun keburukan teman atau kolega kita daripada kesalahan sendiri. Celakanya, saat membicarakan kejelekan orang lain, kita tidak melihat kejelekan diri sendiri. Bahkan lebih gilanya lagi kejelekan orang lain sering kita bumbui dengan kata2 kita sendiri sehingga tampak lebih buruk dari yg sebenarnya. Lalu sadarkah kita saat menganggap diri kita lebih baik dari orang lain yang kita ungkap keburukannya, menunjukkan hal terburuk dari diri sendiri ? Dan maukah kita menerima saat kesalahan kita dibeberkan atau dibicarakan kepada orang lain ? jika tidak, lalu mengapa kita membicarakan keburukan orang lain..?
Dalam sabdaNya, Jesus pernah mengungkapkan sebuah perumpamaan yaitu, "Lidah bagaikan pedang bermata dua". Patut di renungkan. Di sini Jesus ingin mengingatkan kita, untuk menjaga setiap perkataan kita. Dalam artian, sebelum kita mengatakan sesuatu tentang orang lain, terlebih dulu kita periksa diri kita, apakah kita sudah lebih baik dari orang tersebut atau sebaliknya, lebih buruk darinya. Jika masing2 dari kita mau menyadarinya, maka tak akan ada orang yang akan membeberkan keburukan orang lain, sebab kita tak lagi menganggap mereka lebih buruk dari kita sendiri.
Jika boleh aku ungkapkan mengenai sabda di atas, bisa berati seperti ini; Lidah bagaikan pedang bermata dua, yang membelah orang yang kita ajak bicara sekaligus membelah diri kita sendiri. Yang berarti, kita menyadarkan orang lain sekaligus diri kita sendiri. Maka akan lebih baik jika kita senantiasa memeriksa diri kita sendiri daripada kita memeriksa kesalahan orang lain. Sehingga Tuhan tidak menegur kita dengan berkata " Kamu melihat selumbar di mata saudaramu, tetapi balok di matamu tidak kamu lihat." Keluarkanlah dulu balok di matamu, baru kamu bisa mengeluarkan selumbar di mata saudaramu.
"Salvo meliori Iuditio." Semoga ada pendapat yg lebih baik.
Nahan don ing umastuti pada nirahyun umiketa kathe nareswara sang sri natha ri Wilwatikta haji Rajasawijaya wisesa bhupati saksat janma bhatara natha sira n anghilangaken i kalangka ning praja henty ang bhumi Jawatibhakti manukula tumuluyi tekeng dirgantara.
Sabtu, 27 Juni 2009
Senin, 22 Juni 2009
Meniti Setapak Jalan
di atas sehampar pasir
di muka bukit,
tersiar kabar tentang
oase-oase hidup
yang menyegarkan dahaga
jiwa yang kering.
jika melihat dari teriknya mentari
tampaklah sauna alami
yang memanggang hidup
untuk dihidangkan pada
ketiadaan.
terik itu seakan tak
berkesudahan
membakar habis kelesuan
di bawah beban dan
kuk berat yang terpikul
menapaki pasir gurun
yang tanpa batas
dan tanpa ampun
merajam jiwa
hingga lumat.
di muka bukit,
tersiar kabar tentang
oase-oase hidup
yang menyegarkan dahaga
jiwa yang kering.
jika melihat dari teriknya mentari
tampaklah sauna alami
yang memanggang hidup
untuk dihidangkan pada
ketiadaan.
terik itu seakan tak
berkesudahan
membakar habis kelesuan
di bawah beban dan
kuk berat yang terpikul
menapaki pasir gurun
yang tanpa batas
dan tanpa ampun
merajam jiwa
hingga lumat.
Langganan:
Postingan (Atom)