Kamis, 23 Agustus 2012

akhir cerita

Segenggam kata itu tlah berlalu, Bersama waktu yang singgah Tanpa menyapa. Akhir cerita tanpa rupa tanpa kata tanpa tanda berlalu bersama jeda yang bisu. sebuah akhir dibalik titik.

Sabtu, 19 Maret 2011

Sinyal Palsu

di sela hening malam
kau bisikkan apa yang di benakku
menelan sunyimu
seperti merenggut

sekepal senyum
berbau anggur

yang sejenak kita reguk
lalu lenyap
entah kemana...

Rabu, 11 Agustus 2010

Bisu yang meradang..

Membayangmu dibalik
detik silam di waktu kini
selipkan beku tajam
yang menyisakan sesak di
rongga pernafasan

seakan kau ingin menitipkan
segan di balik lipatan
hati yang kian merintih
peri

salahkah aku jika ingin
menyalahkanmu ?
atau memang itu maumu ?

Apalah artinya.....

Kalo boleh aku memilih..
mungkin akan lebih baik jika Nararya Sangramawijaya
tak pernah naik tahta...
dan biarlah wangsa Rajasa hanya sampai pada Kertanegara saja,
tak perlu diteruskan oleh wangsa wijaya sebagai keturunannya
hingga tak perlu perebutan tahta di kasunanan surakarta ataupun tak terjadi perang saudara yang mewarnai keruntuhan wilwatikta.

bahkan mungkin di keluarga ini tak akan ribut mengenai warisan atau apalah itu...
Dan jika boleh...biarlah aku terlahir tanpa darah wijaya itu mengalir di tubuhku,
seandainya dengan demikian semua ini tidak terjadi.

Jika boleh aku menangis...
ingin kulampiaskan semua seperti ketika dahulu aku menangis sebagai dirimu ketika perang bubat yang merenggut nyawa calon pendamping hidupmu yang masih berhubungan darah dengan leluhurku. Aku tau, kau pun sedih melihat anak2mu ini bertengkar, bahkan memusuhi ayahnya sendiri meski bukan keinginan mereka untuk bertengkar, dengan mata ku ini sebagai mata mu di masa ini...dan kau menjadi mataku di kenangan masa lalu...
Terpikir olehku dan juga kau, seandainya tak pernah ada Wijaya atau bahkan Sang Amurwabhumi, mungkin keluarga ini menjadi lebih baik...karena ternyata, kutukan pusaka itu seakan masih menancapkan akarnya dari perselisihan yang ada meski keris itu telah dimusnahkan.

Kau bilang padaku, percuma menyandang nama besar Maharaja ri Wilwatikta yang menguasai nusantara jika keluarga ini demikian menderita.
Tapi mampukah aku memperbaiki semua ini..?
atau kita menyerah saja dan membiarkan semua terjadi begitu saja...?

Pedih hati ini melihat semua yang terjadi...sepedih dia yang telah mangkat melihat perpecahan dalam istana. beberapa tahun lalu kita bertemu dengannya, meski hanya sepenginang saja sudah cukup menjelaskan segalanya... ketika tiga generasi bertemu di dalam waktu yang sama dan di tempat yang sama...aku tau kita saling bicara meski tak sepatah kata kita ucapkan, kau marah karena dia tak mengangkat pengganti, dan dia menemuiku suatu malam untuk tugas berat ini, dan kau hanya diam.

Dan kini semua jadi seperti ini, tanpa aku tau harus berbuat apa.
Seakan percuma kau lahir kembali sebagai aku, meski kau sebagai leluhur dan pembimbingku jika tak bisa menyelesaikan semua ini. aku tak marah atau menyalahkanmu, tapi apalah artinya jika aku hanya bisa diam tanpa bisa berbuat untuk mengakhiri semua ini seperti kau dulu mengakhiri pertikaian orang2 yang melakukan pepe di halaman istana megah itu.

Satu hal yang menyesakkan dadaku...
kakek yang kusayangi begitu memprihatinkan seolah menjadi bahan limpahan kesalahan yang tak kutau dari mana berasal. Jika harus berteriak...aku akan berteriak lantang, selantang Mpu Mada yang meneriakkan sumpahnya. Benci aku dengan semua ini, kenapa semua jadi memusui...? tidak ingatkah ketika kecil mereka di beri makan...?
ternyata percuma jg babtisan itu, jika semua mengandalkan ego sendiri yang akhirnya dia mengalah meski sebenarnya kemarahan anak2nya atas dasar cinta pada beliau juga...
meski kemudian sedikit kebablasan....

Hancur rasa ini...jika aku bisa lakukan sesuatu, ingin ku tiadakan kisah ini. tapi apa boleh dikata, memang ini jalan yang harus dilewati, memang ini kisah hidup keluarga ini yang tak pernah berubah sejak dulu bermula. semoga aku bisa merubahnya, dan semoga Tuhan memberi jalan menuju hidup yang lebih baik.
Dan semoga setiap kesalahan menjadi pelajaran bagi kehidupan ini menjadi lebih baik...

hulun tan ingaran, Rajasawijaya ring nguni saka drestisaptaruna telasinaswaken prabhu, sang sri natha ri Wilwatikta haji Rajasa Nagara wisesa bhupati saksat janma bhatara natha siran anghilangaken i kalangka ning praja hentyang bhumi Jawa ti bhakti manukula tumuluyi tekeng dirgantara.

Rabu, 02 Juni 2010

Menyibak halaman terakhir..

Merambah tepian waktu
menyusur kedalaman
hati

aliran kata itu
menghantar hingga
ke hulu
menghanyutkan lembar-
lembar masa lalu
yang menyelinap di
pelupuk matamu yang
sipit oleh waktu

Tak pasti
hingga kemana ujung
kata akan berhenti
menutup mentari dalam
titik yang sepi
membisukan kata tanpa jeda.

Minggu, 14 Maret 2010

Love is Freedom...

Cinta itu buta kata orang, atau kita dibutakan oleh sesuatu yg kita anggap cinta. Cinta pada hakekatnya adalah kebebasan, ibarat bunga mawar yang memberikan kebebasan kepada setiap orang, tidak peduli dia baik atau jahat, kaya atau miskin, untuk mencium harumnya dan melihat keindahannya, memetiknya bahkan menaburkan mahkotanya di atas pusara di pemakaman. Lebih lagi pohon mawar, meski bunganya di petik orang dia tidak pernah ngambek untuk memekarkan kembali bunganya. Jadi alangkah bodohnya jika kita ingin dianggap istimewa oleh orang yg kita cintai, karena dg demikian kita tidak bebas untuk mencinta tetapi terpenjara oleh pemikiran untuk menjadi istimewa baginya,yang berarti membuat dia juga memandang diri kita dari penjara emas yg kita buat itu. Seperti pohon kelapa, dia istimewa bukan krn pohonya, bukan krn buahnya, bukan juga krn daunnya, tetapi krn memang dia istimewa. Jadi... mari kita berlajar mencintai tanpa syarat, krn kasih itu sabar, dia tidak cemburu, dia tidak berburuk sangka dan tidak memilih. Yang Menerbitkan mataharipun tidak pernah meredupkan sinar mentari atau memadamkannya bagi pembunuh atau penjahat.

Kamis, 11 Februari 2010

Ruang di Balik Kamar

menyusuri ruang kata
dalam lembar bisu
yang menyekat sunyi
di paviliun malam
hingga ujung gang
suram lalu
belok ke kanan

dari situ menuju
pintu yang berlukiskan
aksara dewa

setelah ku buka
terlihat kamar diam
yang penuh aroma
sunyi,

aku tau...
aku tinggal sendiri
ketika mentari datang
tetap saja aku menepi
di dalam malam.