Memburu waktu yang
menunggu,
dari balik lapakmu
yang bisu
tertawakanku.
usai jeda itu
saat kau berlalu.
Nahan don ing umastuti pada nirahyun umiketa kathe nareswara sang sri natha ri Wilwatikta haji Rajasawijaya wisesa bhupati saksat janma bhatara natha sira n anghilangaken i kalangka ning praja henty ang bhumi Jawatibhakti manukula tumuluyi tekeng dirgantara.
Sabtu, 31 Oktober 2009
Siksaku Tahtamu
kutatap lekat mahkota
itu, kupandang dalam
tahta di depanku.
kilau sempurana,
atau fatamorgana?
kupikirkan hingga
mendasar.
bukan,
bukan kilau
buram yang membayang
di jejak lampau.
adamu ataukah
adaku?
lalu mengapa tetes itu
mengalir di nadiku
dan kau ingin letakkan
mudramu di kepalaku?
karunia atau
kutukkah itu?
itu, kupandang dalam
tahta di depanku.
kilau sempurana,
atau fatamorgana?
kupikirkan hingga
mendasar.
bukan,
bukan kilau
buram yang membayang
di jejak lampau.
adamu ataukah
adaku?
lalu mengapa tetes itu
mengalir di nadiku
dan kau ingin letakkan
mudramu di kepalaku?
karunia atau
kutukkah itu?
Akhir Kisah
Desaumu mengikis serpihku
dalam diam membatu.
kilasmu membelah
padas dalam ruam-ruam
biru.
pergimu atau pergiku sore itu?
yang merobek
jelujur hasrat.
benci atau rindu?
dalam diam membatu.
kilasmu membelah
padas dalam ruam-ruam
biru.
pergimu atau pergiku sore itu?
yang merobek
jelujur hasrat.
benci atau rindu?
Langganan:
Postingan (Atom)