kutatap lekat mahkota
itu, kupandang dalam
tahta di depanku.
kilau sempurana,
atau fatamorgana?
kupikirkan hingga
mendasar.
bukan,
bukan kilau
buram yang membayang
di jejak lampau.
adamu ataukah
adaku?
lalu mengapa tetes itu
mengalir di nadiku
dan kau ingin letakkan
mudramu di kepalaku?
karunia atau
kutukkah itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar