Aku pun segera menuju counter check in setelah meninggalkan taksi itu. Langsung saja aku menuju ruang tunggu setelah mendapat boarding pass. Ah lama juga waktu boardingnya, mana gak ada smoking areanya lagi, gerutuku dalam hati. Ya sudah, aku keliling melihat-lihat buku saja dulu, barangkali ada yang bagus untuk dibaca. Aku pun berputar-putar dari satu counter buku ke counter buku yang lain. Capek juga dan sialnya gak ada buku yang menarik. Akhirnya aku pun menyerah. Terpaksa aku duduk menunggu waktu boarding sambil menonton tv yang ada diruang tunggu itu. Hingga tiba-tiba.
Kami pun larut dalam obrolan. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Yuliana adalah sahabat plus kekasihku ketika kuliah dulu. Kebetulan kami satu kampus, meski fakultas kami berbeda. Dia fakultas Bahasa, sedang aku fakultas ekonomi. Aku bertemu dia pertama kali saat aku nongkrong di kafe kampus. Ketika itu dia lewat di depanku. Seketika aku terkesiap dengan kecantikannya, cinta pada pandangan pertama orang bilang. Mulanya aku ragu untuk mendekatinya. Maklum, muka pas-pasan sepertiku mana ada cewe yang melirikku, apalagi secantik Yuliana. Hingga akhirnya akupun memutuskan untuk berkenalan dengannya. Dan ternyata perkiraanku itu salah, dia bukan tipe gadis yang sok jual mahal. Ramah malah.
Pendek cerita kita pun jadi sepasang kekasih. Awalnya aku sedikit canggung setiap kali jalan dengannya. Maklumlah new couple. Tapi lama-lama makin hangat saja hubungan kami. Seakan-akan dunia ini hanya berisi aku dan dia saja. Sebab tiap di situ ada aku, di situpun ada dia. Dulu aku sering menggodanya, atau membuatnya cemburu. Yah sekedar ingin menikmati kecantikannya saja ketika tersenyum atau tertawa. Aku sering kali pura-pura bersembunyi ketika dia tertawa, maklum matanya yang sipit sering terlihat merem ketika tertawa. Dan dia paling jengkel jika aku lakukan itu. Tapi hal yang paling membuatku gemas padanya, ketika dia bermanja-manja terhadapku.
Tapi itu dulu, sebelum dia menikah dengan teman kuliahnya di Jepang. Waktu itu setelah selesai kuliah, dia melanjutkan studinya di Jepang. Kebetulan dia pernah ikut pertukaran pelajar di sana dulu. Sedangkan aku langsung kerja di Semarang. Otomatis komunikasi kami terputus saat itu. Hingga suatu ketika, aku mendapat kabar bahwa dia sudah memperoleh penggantiku. Malah sudah berencana mau menikah. Pantas saja E-mail yang ku kirim jarang sekali di balas, bahkan yang terakhir-terakhir gak pernah dibalas. Rupanya dia sudah punya yang lain di sana. Aku maklumi itu. Hubungan jarak jauh memang sulit.
"Udah boarding belum ?" terdengar suara dari seorang lelaki yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelah Yuliana. "Belum, mungkin masih setengah jam lagi." jawab Yuliana kepada lelaki itu. "Oh ya.. kenalin, ini suamiku." katanya kemudian kepada ku. "Johan." kataku memperkenalkan diri sambil menjabat tangan lelaki itu."Henri." katanya. Jadi ini laki-laki yang merebutmu dariku, pikirku. "Kamu temannya Yuliana ya ?" tanya lelaki itu kepadaku. "Iya, kebetulan dulu kita satu kampus." jawabku. "Oh..teman kampus ya. Sekarang udah kerja ?" tanyanya lagi. "Udah, aku kerja di Jakarta, itung-itung cari pengalaman. Kamu sendiri kerja di Jakarta juga ?" "Gak, aku kerja di sini kok, kebetulan ada urusan keluarga di Jakarta, jadi kita berangkat kesana." "Dia tu dulu pacarku Ko. waktu kuliah, ya kan Jo ?!" sela Yuliana. "Eh..iya. Dulu tapi." jawabku sedikit kaget. "Begitu ya, wah reuni dong." kata Henri. "Ah gak juga, kebetulan aja ketemu di sini. Tapi tenang, aku gak bakal ganggu kalian kok, kan kalian sudah menikah." kataku sambil tersenyum. "Ah jangan begitu dong, aku kan cuman bercanda." "Aku tau Hen, cuman mastiin ke kamu aja biar gak kawatir. hehe."
Akhirnya kami bertukar cerita hingga terdengar panggilan dari bagian informasi bandara bahwa penerbangan mereka akan segera berangkat. Dan akhirnya kamipun berpisah lagi. "OK. Kiata berangkat dulu ya. Kapan-kapan mampir dong ke rumah kalo pas pulang ke Semarang." ajak Henri padaku. "Tentu, lain kali aku mampir deh. Kalo ada waktu tapi." "Harus dong, kalo gak ada waktu, ya di ada-adain dong." kata Yuliana sedikit memaksa. "Iya deh, ntar aku mampir kalo pulang ke Semarang lagi." kataku terpaksa. "Ya sudah, kami berangkat dulu ya." pamitnya. Kami pun berpisah.
Sejenak aku pandang mereka yang kian menjauh pergi dari tempat kami ngobrol tadi. Ah sial, kenapa aku harus kehilangan dia ya. Benakku menyesal. Andai dulu dia gak melanjutkan study di Jepang, mungkin kami sudah menikah. Jodoh. Kata orang jodoh itu di tangan Tuhan, gak bisa diramalkan. Benar juga. Kembali aku duduk termenung.
"Pa, bangun pa ! Sudah waktunya boarding nih." kata seseorang yang mengagetkanku. Akupun terjaga. "Sudah mau boarding ya ma ?" tanyaku setelah sadar. "Iya, papa sih tidur mulu. Cape ya pa ? dah deh ntar tidur lagi di pesawat." katanya lagi. "Ya sudah, ayo berangkat. Limwa mana ?" "Itu di sebelah papa." "Oh iya. Boarding pass udah di siapin ma ?" tanyaku lagi kepada wanita cantik di sebelahku, istriku. "Sudah, ini mama bawa." jawabnya. Dan aku tersenyum riang. "Kenapa sih pa, kok senyum-senyum kaya habis dapet undian aja ?" tanya istriku. "Gak apa-apa, papa senang aja bisa pergi dengan mama." godaku. "Ih genit deh." balasnya sambil tersenyum. "I love you ma." tambahku lagi. "Apaan sih papa." jawab wanita cantik itu. Sekali lagi istriku, Yuliana.