Minggu, 01 Februari 2009

27 Januari 2009

"Kembali dua puluh ribu saja pak" kataku kepada sopir taksi, yang mengantarku sampai di bandara. "Wah, trima kasih sekali mas, saya di beri untung sama masnya nih." katanya senang. "Buat beli rokok pak." basa-basiku, "Terima kasih ya pak." lanjutku lagi. "Iya mas, selamat jalan."

Aku pun segera menuju counter check in setelah meninggalkan taksi itu.
Langsung saja aku menuju ruang tunggu setelah mendapat boarding pass. Ah lama juga waktu boardingnya, mana gak ada smoking areanya lagi, gerutuku dalam hati. Ya sudah, aku keliling melihat-lihat buku saja dulu, barangkali ada yang bagus untuk dibaca. Aku pun berputar-putar dari satu counter buku ke counter buku yang lain. Capek juga dan sialnya gak ada buku yang menarik. Akhirnya aku pun menyerah. Terpaksa aku duduk menunggu waktu boarding sambil menonton tv yang ada diruang tunggu itu. Hingga tiba-tiba.
"Hai.." terdengar suara merdu seorang gadis.
"Ha..hai.." balasku ragu. Kusimak sejenak wajah gadis yang ada di depanku, sekedar memastikan siapa yang ada di hadapanku. "Mau ke mana?"tanya wajah cantik itu. "Yuliana...? eh..iya aku mau ke Jakarta.." jawabku gagap."Kau sendiri mau kemana?" lanjutku lagi setelah menyadari benar siapa yang ada di depanku. "Ke Jakarta juga. Kamu kenapa sih? kok kaya ngeliat setan gitu?" tanyanya heran. "Ah nggak, aku cuman kaget aja liat kamu di sini." "Oh.. Eh iya,kamu naik pesawat apa?"tanyanya lagi."Aku dengan Mandala, kau sendiri?""Dengan Garuda."
"Wah.. gak bisa sama-sama dong hehehe." kataku sedikit kecewa. "Iya nih, padahal kalo satu pesawat bisa nostalgia ya." katanya menggodaku sambil tersenyum manis. Senyum yang selalu menawanku. "Ah nostalgila kali.. kamu ini bisa aja, jadi mau." balasku. "Kamu sendirian ?"tanyaku kemudian. "Gak, aku dengan suamiku. Kebetulan dia lagi ke toilet." jawabnya."Ohhh..gak bisa nostalgila dong." aku tambah kecewa. "Bisa, kamu nostalgila ama suamiku aja ya." katanya dengan penuh tawa. "Ah emang aku ini apaan."

Kami pun larut dalam obrolan. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Yuliana adalah sahabat plus kekasihku ketika kuliah dulu. Kebetulan kami satu kampus, meski fakultas kami berbeda. Dia fakultas Bahasa, sedang aku fakultas ekonomi. Aku bertemu dia pertama kali saat aku nongkrong di kafe kampus. Ketika itu dia lewat di depanku. Seketika aku terkesiap dengan kecantikannya, cinta pada pandangan pertama orang bilang. Mulanya aku ragu untuk mendekatinya. Maklum, muka pas-pasan sepertiku mana ada cewe yang melirikku, apalagi secantik Yuliana. Hingga akhirnya akupun memutuskan untuk berkenalan dengannya. Dan ternyata perkiraanku itu salah, dia bukan tipe gadis yang sok jual mahal. Ramah malah.


Pendek
cerita kita pun jadi sepasang kekasih. Awalnya aku sedikit canggung setiap kali jalan dengannya. Maklumlah new couple. Tapi lama-lama makin hangat saja hubungan kami. Seakan-akan dunia ini hanya berisi aku dan dia saja. Sebab tiap di situ ada aku, di situpun ada dia. Dulu aku sering menggodanya, atau membuatnya cemburu. Yah sekedar ingin menikmati kecantikannya saja ketika tersenyum atau tertawa. Aku sering kali pura-pura bersembunyi ketika dia tertawa, maklum matanya yang sipit sering terlihat merem ketika tertawa. Dan dia paling jengkel jika aku lakukan itu. Tapi hal yang paling membuatku gemas padanya, ketika dia bermanja-manja terhadapku.

Tapi itu dulu, sebelum dia menikah dengan teman kuliahnya di Jepang. Waktu itu setelah selesai kuliah, dia melanjutkan studinya di Jepang. Kebetulan dia pernah ikut pertukaran pelajar di sana dulu. Sedangkan aku langsung kerja di Semarang. Otomatis komunikasi kami terputus saat itu. Hingga suatu ketika, aku mendapat kabar bahwa dia sudah memperoleh penggantiku. Malah sudah berencana mau menikah. Pantas saja E-mail yang ku kirim jarang sekali di balas, bahkan yang terakhir-terakhir gak pernah dibalas. Rupanya dia sudah punya yang lain di sana. Aku maklumi itu. Hubungan jarak jauh memang sulit.

"Udah boarding belum ?" terdengar suara dari seorang lelaki yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelah Yuliana. "Belum, mungkin masih setengah jam lagi." jawab Yuliana kepada lelaki itu. "Oh ya.. kenalin, ini suamiku." katanya kemudian kepada ku. "Johan." kataku memperkenalkan diri sambil menjabat tangan lelaki itu."Henri." katanya. Jadi ini laki-laki yang merebutmu dariku, pikirku. "Kamu temannya Yuliana ya ?" tanya lelaki itu kepadaku. "Iya, kebetulan dulu kita satu kampus." jawabku. "Oh..teman kampus ya. Sekarang udah kerja ?" tanyanya lagi. "Udah, aku kerja di Jakarta, itung-itung cari pengalaman. Kamu sendiri kerja di Jakarta juga ?" "Gak, aku kerja di sini kok, kebetulan ada urusan keluarga di Jakarta, jadi kita berangkat kesana." "Dia tu dulu pacarku Ko. waktu kuliah, ya kan Jo ?!" sela Yuliana. "Eh..iya. Dulu tapi." jawabku sedikit kaget. "Begitu ya, wah reuni dong." kata Henri. "Ah gak juga, kebetulan aja ketemu di sini. Tapi tenang, aku gak bakal ganggu kalian kok, kan kalian sudah menikah." kataku sambil tersenyum. "Ah jangan begitu dong, aku kan cuman bercanda." "Aku tau Hen, cuman mastiin ke kamu aja biar gak kawatir. hehe."

Akhirnya kami bertukar cerita hingga terdengar panggilan dari bagian informasi bandara bahwa penerbangan mereka akan segera berangkat. Dan akhirnya kamipun berpisah lagi. "OK. Kiata berangkat dulu ya. Kapan-kapan mampir dong ke rumah kalo pas pulang ke Semarang." ajak Henri padaku. "Tentu, lain kali aku mampir deh. Kalo ada waktu tapi." "Harus dong, kalo gak ada waktu, ya di ada-adain dong." kata Yuliana sedikit memaksa. "Iya deh, ntar aku mampir kalo pulang ke Semarang lagi." kataku terpaksa. "Ya sudah, kami berangkat dulu ya." pamitnya. Kami pun berpisah.

Sejenak aku pandang mereka yang kian menjauh pergi dari tempat kami ngobrol tadi. Ah sial, kenapa aku harus kehilangan dia ya. Benakku menyesal. Andai dulu dia gak melanjutkan study di Jepang, mungkin kami sudah menikah. Jodoh. Kata orang jodoh itu di tangan Tuhan, gak bisa diramalkan. Benar juga. Kembali aku duduk termenung.

"Pa, bangun pa ! Sudah waktunya boarding nih." kata seseorang yang mengagetkanku. Akupun terjaga. "Sudah mau boarding ya ma ?" tanyaku setelah sadar. "Iya, papa sih tidur mulu. Cape ya pa ? dah deh ntar tidur lagi di pesawat." katanya lagi. "Ya sudah, ayo berangkat. Limwa mana ?" "Itu di sebelah papa." "Oh iya. Boarding pass udah di siapin ma ?" tanyaku lagi kepada wanita cantik di sebelahku, istriku. "Sudah, ini mama bawa." jawabnya. Dan aku tersenyum riang. "Kenapa sih pa, kok senyum-senyum kaya habis dapet undian aja ?" tanya istriku. "Gak apa-apa, papa senang aja bisa pergi dengan mama." godaku. "Ih genit deh." balasnya sambil tersenyum. "I love you ma." tambahku lagi. "Apaan sih papa." jawab wanita cantik itu. Sekali lagi istriku, Yuliana.

Gate C2

25 Jan 2009, Terminal 1C

Akhirnya sampai juga aku di bandara itu. Sendiri, tengak-tengok kanan kiri tak tau apa yang mau aku lakukan. Yah maklumlah, pergi sendiri dan waktu check in juga masih lama. Tau begini.. mending berangkat agak sore tadi, pikirku. Ya sudahlah, sambil menunggu waktu, lebih baik aku duduk dulu di sini, hitung-hitung sambil liat-liat pemandangan cantik di depan mata. Lama juga aku bengong di luar counter check in memandang tingkah laku gadis-gadis cantik yang centil-centil itu, hingga akhirnya ku putuskan untuk masuk ke counter check in.
"Ke mana pak ?" tanya seorang wanita penjaga counter check in di depanku. "Ke semarang." jawabku singkat. "Counter duabelas ya." terangnya kemudian. Aku pun berlenggang ke counter yang di maksud, setelah mengucap terima kasih tentunya.
Antri sebentar nih, pikirku. "Selamat siang, bisa dibantu?" kata petugas check in di depanku ramah. Aku sodorkan tiket yang ada dalam genggamanku. "Boleh lihat KTP-nya pak?" pinta petugas itu ramah. "Tentu" jawabku sambil merogoh dompet dan mengeluarkan KTP dari dalamnya. Petugas itu pun memeriksa nama yang tertera di KTP, dan dia berkata "OK Checked" setelah yakin nama yang tertera di tiket dan KTP sama.
Setelah beberapa saat menunggu, diapun memberikan boarding pass dan memberi petunjuk Gate mana yang harus aku datangi. Aku pun berlenggang menuju gate C2 sesuai dengan yang tertera pada boarding pass yang ku bawa. Sejenak ku lirik jam di HP ku. Ah.. masih lama juga rupanya, baiklah aku duduk di ruang tunggu ini, bisa sambil merokok, pikirku.
Nikmat juga, maklum dari tadi aku harus menahan napsu untuk mencium istri pertamaku, sebatang rokok yang terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahku. Beberapa hisapan dalam, kunikmati. Hingga kemesraan itu sedikit terusik oleh beberapa penumpang yang datang melewati tempat pemeriksaan.
Dan entah mengapa, saat itu juga aku merasa kau ada di dekat sini, seakan kita pernah berada di tempat ini bersama. Perasaan itu begitu nyata di hadapanku. Dan sejenak, aku terkesiap ketika melihat seorang gadis yang begitu mirip denganmu, Yuliana. Ah...rupanya aku masih saja hidup di bayang-bayang masa lalu. Sial, harusnya aku sudah melupakan dia, yang kini sudah menjadi istri orang lain.
Masa bodoh dengan semua itu, biarlah aku menikmati semua ini sejenak saja, barangkali setelah itu semua hilang. Aku pun terbuai dengan semua perasaan itu, meski sesekali mataku melirik gadis-gadis cantik yang lewat di depanku. Hingga ada seorang penumpang lain yang menghampiriku. "Ke mana mas?" tanya orang itu. "Semarang mas. Mas juga ke Semarang?" kataku kemudian. "Iya, lama gak pulang mas, kangen ama rumah, kebetulan istri mau melahirkan." ceritanya tanpa aku pinta. " Emang rumahnya mana mas?" tanyaku lagi. "Kudus mas, masnya mana?" "Saya Karangjati, Ungaran mas. Lho memang istrinya di tinggal di Kudus mas? trus mas ini dari mana?" aku penasaran. "Iya mas, dulu sih sama kerja di Batam, tapi setelah menikah dia tinggal di Kudus." "Kerja di Batam ya mas..? Berarti transit donk?" tanyaku lagi, tapi dalam bahasa jawa kali ini. "Ya beginilah mas, namanya juga cari nasi." jawabnya. Kamipun larut dalam obrolan, hingga tak terasa waktu boarding tiba, dan kami pun berpisah di ruang tunggu.

Entah kenapa perasaan itu muncul kembali ketika aku duduk di ruang tunggu bandara itu. Yuliana lagi. Apa mungkinkau pernah ada di sini..? Entah.. aku tak tau soal itu. Akhirnya tiba juga waktu boarding. Aku langsung menuju pesawat yang sudah menunggu untuk menerbangkanku ke Semarang, atau malah lebih tepatnya aku yang menunggu. Akhirnya, take off juga. Mungkin memang sedang beruntung kali ya, sudah dapat tiket khusus, pramugarinya cantik lagi. Boleh dunk goda-goda dikit. Kebetulan ada inflight shoping, jadi aku gunakan kesempatan untuk membeli sebuah jam tangan yang cukup unik.

Lagi asik lihat jamnya, Pramugari cantik itu berkata, " langsung pake aja mas, gak pa pa kok.""oh.. ya mbak, emm..boleh tolong pakain gak..?" godaku. Si pramugari hanya tersenyum malu. ah.. dasar penggoda, pikirnya mungkin.

Beberapa saat kemudian aku pun sampai di Semarang, langsung saja aku cari kakakku dan istrinya beserta adikku yang kebetulan sudah menunggu di tempat parkir mobil. Mereka baru saja menjemput kakaku yang juga baru sampai di Semarang. Memang aneh, sama-sama pulang dari Jakarta, tapi jalan sendiri-sendiri. Pulang bareng pun setelah tiba di Semarang. Salah satu keanehan keluarga Wijaya. Apa mungkin sejak jaman pendiri keluarga Wijaya dulu sudah begitu ya..? Tapi mungkin juga begitu, mengingat R. Wijaya harus bersembunyi dan berperang melawan musuh sebelum mendirikan istananya, Majapahit.

Salvo Meliori Iuditio...