Akhirnya sampai juga aku di bandara itu. Sendiri, tengak-tengok kanan kiri tak tau apa yang mau aku lakukan. Yah maklumlah, pergi sendiri dan waktu check in juga masih lama. Tau begini.. mending berangkat agak sore tadi, pikirku. Ya sudahlah, sambil menunggu waktu, lebih baik aku duduk dulu di sini, hitung-hitung sambil liat-liat pemandangan cantik di depan mata. Lama juga aku bengong di luar counter check in memandang tingkah laku gadis-gadis cantik yang centil-centil itu, hingga akhirnya ku putuskan untuk masuk ke counter check in.
"Ke mana pak ?" tanya seorang wanita penjaga counter check in di depanku. "Ke semarang." jawabku singkat. "Counter duabelas ya." terangnya kemudian. Aku pun berlenggang ke counter yang di maksud, setelah mengucap terima kasih tentunya.
Antri sebentar nih, pikirku. "Selamat siang, bisa dibantu?" kata petugas check in di depanku ramah. Aku sodorkan tiket yang ada dalam genggamanku. "Boleh lihat KTP-nya pak?" pinta petugas itu ramah. "Tentu" jawabku sambil merogoh dompet dan mengeluarkan KTP dari dalamnya. Petugas itu pun memeriksa nama yang tertera di KTP, dan dia berkata "OK Checked" setelah yakin nama yang tertera di tiket dan KTP sama.
Setelah beberapa saat menunggu, diapun memberikan boarding pass dan memberi petunjuk Gate mana yang harus aku datangi. Aku pun berlenggang menuju gate C2 sesuai dengan yang tertera pada boarding pass yang ku bawa. Sejenak ku lirik jam di HP ku. Ah.. masih lama juga rupanya, baiklah aku duduk di ruang tunggu ini, bisa sambil merokok, pikirku.
Nikmat juga, maklum dari tadi aku harus menahan napsu untuk mencium istri pertamaku, sebatang rokok yang terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahku. Beberapa hisapan dalam, kunikmati. Hingga kemesraan itu sedikit terusik oleh beberapa penumpang yang datang melewati tempat pemeriksaan.
Dan entah mengapa, saat itu juga aku merasa kau ada di dekat sini, seakan kita pernah berada di tempat ini bersama. Perasaan itu begitu nyata di hadapanku. Dan sejenak, aku terkesiap ketika melihat seorang gadis yang begitu mirip denganmu, Yuliana. Ah...rupanya aku masih saja hidup di bayang-bayang masa lalu. Sial, harusnya aku sudah melupakan dia, yang kini sudah menjadi istri orang lain.
Masa bodoh dengan semua itu, biarlah aku menikmati semua ini sejenak saja, barangkali setelah itu semua hilang. Aku pun terbuai dengan semua perasaan itu, meski sesekali mataku melirik gadis-gadis cantik yang lewat di depanku. Hingga ada seorang penumpang lain yang menghampiriku. "Ke mana mas?" tanya orang itu. "Semarang mas. Mas juga ke Semarang?" kataku kemudian. "Iya, lama gak pulang mas, kangen ama rumah, kebetulan istri mau melahirkan." ceritanya tanpa aku pinta. " Emang rumahnya mana mas?" tanyaku lagi. "Kudus mas, masnya mana?" "Saya Karangjati, Ungaran mas. Lho memang istrinya di tinggal di Kudus mas? trus mas ini dari mana?" aku penasaran. "Iya mas, dulu sih sama kerja di Batam, tapi setelah menikah dia tinggal di Kudus." "Kerja di Batam ya mas..? Berarti transit donk?" tanyaku lagi, tapi dalam bahasa jawa kali ini. "Ya beginilah mas, namanya juga cari nasi." jawabnya. Kamipun larut dalam obrolan, hingga tak terasa waktu boarding tiba, dan kami pun berpisah di ruang tunggu.
Entah kenapa perasaan itu muncul kembali ketika aku duduk di ruang tunggu bandara itu. Yuliana lagi. Apa mungkinkau pernah ada di sini..? Entah.. aku tak tau soal itu. Akhirnya tiba juga waktu boarding. Aku langsung menuju pesawat yang sudah menunggu untuk menerbangkanku ke Semarang, atau malah lebih tepatnya aku yang menunggu. Akhirnya, take off juga. Mungkin memang sedang beruntung kali ya, sudah dapat tiket khusus, pramugarinya cantik lagi. Boleh dunk goda-goda dikit. Kebetulan ada inflight shoping, jadi aku gunakan kesempatan untuk membeli sebuah jam tangan yang cukup unik.
Lagi asik lihat jamnya, Pramugari cantik itu berkata, " langsung pake aja mas, gak pa pa kok.""oh.. ya mbak, emm..boleh tolong pakain gak..?" godaku. Si pramugari hanya tersenyum malu. ah.. dasar penggoda, pikirnya mungkin.
Beberapa saat kemudian aku pun sampai di Semarang, langsung saja aku cari kakakku dan istrinya beserta adikku yang kebetulan sudah menunggu di tempat parkir mobil. Mereka baru saja menjemput kakaku yang juga baru sampai di Semarang. Memang aneh, sama-sama pulang dari Jakarta, tapi jalan sendiri-sendiri. Pulang bareng pun setelah tiba di Semarang. Salah satu keanehan keluarga Wijaya. Apa mungkin sejak jaman pendiri keluarga Wijaya dulu sudah begitu ya..? Tapi mungkin juga begitu, mengingat R. Wijaya harus bersembunyi dan berperang melawan musuh sebelum mendirikan istananya, Majapahit.
Salvo Meliori Iuditio...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar