Sketsa-sketsa yang dia buat selalu terlihat seperti kehidupan lain
yang jauh dari kehidupannya. Ibarat membandingkan takdir manusia di
rasi zodiak capricorn di awal bulan Januari dengan rasi zodiak
sagitarius di awal bulan Desember, bisa sangat dekat tapi bisa juga
terlampau jauh dari sudut pandang dan perhitungan berbeda.
Kalau aku bilang, dia terlalu berani memilih warna-warna terang tapi
dia selalu mengoceh tiap aku berkomentar. Aku pengamat sekedar, begitu
caranya menunjukkan kekesalannya akan kesoktahuanku. Benar saja, aku
selalu melihat hidupnya yang gelap yang kuakui bisa dilaluinya dengan
susah payah, dan kubandingkan dengan lukisannya yang selalu bercorak
abstrak dengan warna-warni seperti pelangi. Jauh berbeda.
Dan dia selalu mengoceh kalau aku berani berkomentar. Katanya aku
hanya pikiran, yang selalu berkata salah tiap dia bilang benar. Aku
hanya setan yang mampir di sebelah kirinya dan beradu pendapat dengan
malaikat bersayap di sisi kanannya.
"Apa arti lukisan ini?" ah, turis-turis bodoh selalu menanyakan itu
tiap mampir ke galeri, yang lebih bodoh, dia akan tersenyum tawar dan
menjawab dengan berlagak sok karismatik.
Kalau kubilang pelukis miskin selalu begitu, mengiba dengan senyuman
dan tuturan kata manis di depan pelanggan yang mungkin menimang
berjuta dolar di tasnya yang bermerek mahal.
Aku sudah bilang lukisannya jelek. Sudah kubilang warna-warnanya
terlalu terang dan membuat mataku perih. Sudah kubilang seharusnya dia
membeli acrylic yang lebih mahal untuk mewarnai kubik-kubik aneh yang
dia bentuk di kanvas itu.
"Kenapa mengambil aliran seperti ini?" pengamat lukisan yang sok
pintar biasa bergumam seperti itu, biasanya mereka berkaca mata dan
bertopi bulat berukuran kekecilan dengan warna gelap, rambut mereka
sudah beruban, dan wajah mereka dipaksakan kelihatan bijaksana.
Lagi-lagi dia akan memelas pujian dari kakek-kakek renta seperti itu,
menawarkan bahwa nama-nama besar luar negerilah yang menginspirasi
lukisan-lukisan yang dia garap. Cih, geli aku dibuatnya, dia toh
terlalu miskin untuk tahu sejarah seni di negeri barat.
Dan dia pergi ke
paling penting ketika ada bule yang bertandang. Aku diajaknya ikut,
menyumpah serapah padanya tiap dia tidak mendengar racauanku.
Sejak dulu dia tak pernah mendengarkan pendapatku. Sudah kubilang,
dulu sewaktu lulus SMP, dia tidak harus masuk SMK supaya bisa langsung
bekerja. Dia bisa saja masuk SMA, biar bisa jadi dokter seperti si
Adit temannya yang bodoh yang anak gubernur itu. Tapi dia bersikeras
bilang orang tuanya miskin, mana punya uang untuk melanjutkan sekolah
tinggi-tinggi.
Sudah kubilang dia bisa mengambil bantuan saja dari Pak Lurah, dia
pintar karena bisa jadi
bantuan pemerintah semuanya tipuan, seperti negeri maya di dalam
dongeng-dongeng.
"Hai, Adi!"
Dia berbalik tiba-tiba, membuatku blingsatan kanan-kiri.
"Adi, kau jadi pelukis ya, sekarang? Wah, hebat, nih. Apa kabar kau?
Sudah kawin belum?" baru aku cerita tentang si Adit murid bodoh yang
anak gubernur itu, sekarang dia dengan angkuhnya mengulurkan tangan.
Aku bilang padanya untuk tidak usah berbasa-basi, tapi dia malah
mengacaukan segalanya, dijabatnya tangan si Adit itu, "Ah, belum, aku
belum menikah. Kabarku, begini-begini saja, tidak sehebat kau, Dit.
Kudengar kau sudah jadi dokter, ya? Kau sendiri, sudah kawin belum?"
Kujamin dia akan menyesali basa-basinya itu, masih ingat aku dengan
tingkah sombong si Adit tiap pamer oleh-oleh yang dibawakan orang
tuanya yang kaya dari Singapur atau Eropa.
"Ah, kau ini bisa saja, mana mungkin aku kawin semuda ini, Di." Tangan
Adit meremas dengan gestur yang tak bisa kuartikan. Dia tersenyum
sungkan dan wajahnya merah padam. Aku bilang mungkin si Adit itu
mengidap homoseksual, dan dia malah tersenyum-senyum saja.
"Kau tampan begini. Mana ada cewek yang nolak kamu, Dit. Sudah dokter,
anak orang kaya, tampan.. apa yang kurang?" entah dari mana dia
mendapat kalimat pujian sinting itu, aku sudah bilang padanya untuk
pergi, tatapan Adit mengerikan, sudah kubilang, Adit pasti homoseks.
"Aku suka lukisan-lukisanmu, Di."
Bah! Apa dia bilang? Nadanya kemayu seperti wanita.
Tidak, Adit begitu perkasa. Begitu dia mendebatku, katanya, mana
mungkin lelaki perkasa mengidap penyakit yang hampir sama jenisnya
dengan ejakulasi dini.
"Kalau kau suka, kenapa tidak kau beli semuanya?" Sinting! Ditaruh di
mana mukanya waktu bicara begitu? Sudah kuingatkan dia, sewaktu kedua
orang tuanya yang hanya pekerja serabutan dan buruh cuci dikata-katai
gembel di depan semua murid-murid di SMP-nya.
"Sudah kusuruh asistenku memesan semua lukisanmu dari pemilik galeri
ini." begitu si Adit homoseks itu menjawab.
Kau akan dimanfaatkan!
Dan dia malah tersenyum, "Sahabat lamaku telah kembali." Basa-basi apa
lagi yang mau dia perpanjang?
"Bagaimana kalau kau kuundang ke rumahku? Aku mau kau melukis aku dan
keluargaku." Tuh, sudah kubilang, pasti ada niatan terselubung.
Tatapan matanya aneh!
"Oh, oke. Minggu ini aku tidak ada acara." Padahal sudah kubilang, dia
harus pulang kampung karena Ayahnya sedang sakit.
Biar saja buruh itu mati , begitu dia menghentikan ocehanku sepanjang
jam setelah kepergian Adit dengan semua lukisannya.
Seminggu kemudian, Ayahnya benar mati dan di saat dia harusnya datang
ke acara pemakaman Ayahnya, si Adit itu menelepon, "Sayang, lukis aku
lagi ya, malam ini."
Dan dia membanting ponselnya. Sudah kubilang, kau akan menyesal!
Diam kau pikiran! Begitu dia menghardikku marah.
Kubilang, ambil saja pisau di dapurnya yang lembab dan bau telur
busuk, dia malah terduduk di pojok, mengambil kuas dan kanvasnya.
Dan dia melukis dengan warna gelap, tidak lagi berbentuk kubik. Dia
melukis kematian.
Apa kubilang, lukisanmu memang harusnya berwarna gelap, seperti
hidupmu. Aku menudingnya telak.
Dan dia membanting kuasnya, mengangkat lalu melempar kanvasnya keluar
jendela apartemennya.
Berbarengan, dia menerjunkan tubuhnya juga.
Padahal sudah kubilang seharusnya dia mengambil pisau saja di dapur
dan menusuk dadanya ketimbang dia harus kehilangan kepalanya juga
kehilangan aku dalam pikirannya.
Dasar laki-laki bodoh.
Nahan don ing umastuti pada nirahyun umiketa kathe nareswara sang sri natha ri Wilwatikta haji Rajasawijaya wisesa bhupati saksat janma bhatara natha sira n anghilangaken i kalangka ning praja henty ang bhumi Jawatibhakti manukula tumuluyi tekeng dirgantara.
Rabu, 17 Desember 2008
Salah Siapa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar